Putin Menelepon Presiden Iran Ebrahim Raisi Pasca-Serangan Iran ke Israel, Ini Isi Pembicaraannya

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Ebrahim Raisi. Rusia dan Iran telah menjalin hubungan kerja sama yang baik. FOTO: AFP/SERGEI BOBYLYOV
JAKARTA—Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi pada Selasa (16/4/2024). Perbincangan jarak jauh tersebut membahas “tindakan pembalasan yang diambil oleh Iran”, menyusul serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April.

Dalam pembicaraan tersebut, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Putin mendesak mendesak agar semua pihak menahan diri dari “tindakan yang akan memicu konfrontasi baru”—yang menurutnya bakal berdampak buruk bagi Timur Tengah.

Putin, dalam komentar publik pertamanya terkait serangan Iran tersebut, mengatakan akar penyebab ketidakstabilan di Timur Tengah saat ini adalah konflik Israel-Palestina yang terus berlanjut.

“Vladimir Putin menyatakan harapannya bahwa semua pihak akan menunjukkan pengendalian diri yang wajar dan mencegah babak baru konfrontasi yang penuh dengan konsekuensi bencana bagi seluruh kawasan,” demikian pernyataan Kremlin, dikutip dari Al Jazeera.

Bacaan Lainnya

“Ebrahim Raisi mencatat bahwa tindakan Iran bersifat terpaksa dan terbatas,” kata Kremlin. “Pada saat yang sama, dia menekankan ketidaktertarikan Teheran terhadap eskalasi ketegangan lebih lanjut.”

Sebagaimana diketahui, pada Sabtu (13/4/2024) akhir pekan lalu, Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal ke Israel sebagai tanggapan atas serangan Israel di Damaskus, yang menewaskan tujuh petugas Korps Garda Revolusi Islam, termasuk dua jenderal.

Raisi dilaporkan mengucapkan terima kasih kepada Rusia atas sikapnya terhadap tanggapan Iran terhadap Israel. Menurut pihak kepresidenan Iran, Raisi mengatakan bahwa lambatnya sikap masyarakat internasional dan peran destruktif beberapa negara Barat memaksa Iran untuk melakukan operasi baru-baru ini.

Raisi juga menegaskan kembali bahwa tindakan apapun yang bertentangan dengan kepentingan Iran akan “memerlukan respons skala besar”.

Rusia, yang telah menjalin hubungan dekat dengan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan beberapa pemimpin Arab, telah berulang kali ‘memarahi’ Barat karena mengabaikan perlunya negara Palestina merdeka sesuai perbatasan tahun 1967.

Pos terkait