Kehidupan pesantren adalah faktor utama pembentuk kecerdasan Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Soewardi kecil adalah santri yang cerdas. Menggagas sistem pendidikan nasional berbasis pesantren, namun gagal diaplikasikan.
Menurut Zainul Milal Bizawie dalam Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945), fakta bahwa Ki Hadjar Dewantara waktu kecil adalah seorang santri tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah.
Sementara itu, dalam buku Ki Hajar Dewantara Pemikiran dan Perjuangannya yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Soewardi kecil tercatat pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Ayahnya, Kanjeng Pangeran Ario, menitipkan Soewardi kepada sahabatnya, Kiai Soeleman Zainuddin atau KH. Muhammad Furqan, pengasuh sebuah pondok pesantren di daerah Kalasan, Prambanan, Jawa Tengah.
Soewardi belajar Al-Quran, hadits dan beberapa kitab kuning di situ. Kecerdasannya ternyata sudah terlihat sejak nyantri itu. Sampai-sampai Kiai Soeleman Zainuddin menjulukinya “Jemblung Trunogati” yang berarti “seorang anak berperawakan kecil, berperut buncit, dan berpengetahuan luas”.
Kiai Soeleman, yang kenal Soewardi sejak bayi, mengaku memiliki firasat saat mendengar tangisan bayi Soewardi. Menurutnya, suara tangisan itu lembut, yang menjadi tanda bahwa Soewardi akan didengar banyak orang di negeri ini.
Dan perut bayi Soewardi yang kembung atau buncit, menurut Kiai Soeleman, menandakan bahwa dia akan menelan dan menerima banyak ilmu. Bahkan, ada satu versi sejarah yang menyatakan Ki Hadjar merupakan seorang penghafal Al-Quran, sekaligus paham isinya.
Riwayat nyantri Soewardi juga dikonfirmasi oleh Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH. Achmad Chalwani. Dia mengamini bahwa Ki Hadjar Dewantara ngaji Al-Quran kepada Kiai Soeleman Zainuddin.
“Ayo kita buka sejarah Taman Siswa, anak didik supaya tahu utuh, sejarah jangan dipotong-potong. Kalau Anda memotong sejarah, pada saatnya nanti sejarah Anda akan dipotong oleh Allah Swt.,” kata Kiai Chalwani dalam salah satu ceramahnya, yang bermaksud mengajak membuka fakta bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah seorang santri, dikutip Kamis, 2 Mei 2024.





