Penentang Sistem Pendidikan Modern ala Belanda
Pada November 1928, Ki Hadjar Dewantara menulis sebuah artikel dengan judul Sistem Pondok dan Asrama itulah Sistem Nasional di Majalah Wasita. Menurut Ki Hadjar dalam artikel tersebut, konsep pesantren perlu dijadikan sistem pendidikan nasional.
“Mulai zaman dahulu hingga sekarang kita mempunyai rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan, yaitu kalau sekarang disebut pondok pesantren. Kalau zaman dulu dinamakan priwatan atau asrama. Sifat pesantren atau pondok dan asrama, yaitu rumah kiai guru (Ki Hadjar), yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat rumah pengajaran juga. Di situ karena guru dan murid tiap hari, siang malam, berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendiri selalu berhubungan dengan pendidikan,” demikian kata Ki Hajar Dewantara dalam artikelnya tersebut.
Ki Hajar pernah juga menyampaikan kritik konsep pendidikan kolonial dalam bentuk sekolah Pada 1922. Konsep pendidikan Belanda itu, menurut Ki Hadjar, hanya menghasilkan lulusan bermental buruh. Maka dari itulah dia mendirikan Taman Siswa, sebagai tandingan untuk sekolah ala Belanda.
“Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh dari kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial. Singkatnya, pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan Pemerintah Kolonial dan bersifat tetap semenjak zaman VOC, meskipun di bawah politik etika. Tapi, anehnya, banyak priyayi atau bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini, dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan intelektual dan fisik. Semua itu semata-semata hanya memberikan surat ijazah yang menunjukkan mereka menjadi buruh,” Ki Hadjar Dewantara melontarkan kritiknya.
Sementara itu, mengutip dari sebuah makalah berjudul Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren, Ki Hajar Dewantara pernah mengusulkan agar pendidikan pesantren menjadi sistem pendidikan nasional. Alasannya, pesantren sudah melekat dalam hati masyarakat Indonesia. Sistem pendidikan pesantren merupakan kreasi atau budaya asli (indigenous Culture) bangsa Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain.
Alasan lainnya adalah, menurut Ki Hadjar, pendidikan di pesantren tidak lepas dari hidup dalam kesenian, peradaban, dan keagamaan. Dan semua itu merupakan kekayaan nasional yang tersimpan dalam kekayaan batin bangsa Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara ingin anak-anak Indonesia didekatkan dengan kehidupan rakyat, supaya tidak hanya mengetahui tentang rakyat—hanya sebagai pengetahuan saja—namun juga mengalami sendiri kehidupan bersama rakyat dan dan tidak terpisah dari rakyat.
Dan sistem paling tepat untuk mencapai cita-cita itu, menurut Ki Hadjar, adalah sistem pondok. Sistem itu berdasarkan hidup kekeluargaan, untuk menyatukan pengajaran pengetahuan dengan pengajaran budi pekerti.
Sistem pondok akhirnya diterapkan di Taman Siswa, sejak lembaga pendidikan ini didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara. Di situ asrama laki-laki disebut dengan Wisma Pria dan asrama perempuan disebut dengan Wisma Rini.
Sebagai pengajar di Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara memilihkan guru yang telah berkeluarga. Hal itu berguna untuk, “Memelihara suasana kekeluargaan,” tulis Siti Fatimah dalam skripsinya berjudul Perjuangan Taman Siswa Yogyakarta Melawan Onderwijs-Ordonantie Tahun 1922-1933 untuk kepada Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang terbit pada tahun 2013.





