BMKG Pastikan Prediksi Viral Gempa Jawa-Jakarta Tidak Ilmiah

Ilustrasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan video viral ramalan gempa besar di Jawa dan Jakarta sebelum 2026 tidak memiliki dasar ilmiah serta berpotensi memicu kepanikan.

Penjabat Pengendali Mutu Data Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Pepen Supendi, menyatakan video viral prediksi gempa besar di Indonesia sebelum 2026 berakhir tidak ilmiah. Klaim dari kreator konten Frankie MacDonald itu dinilai tidak memiliki dasar saintifik yang valid.

Soal ramalan tersebut, Pepen menyoroti tidak adanya data detail mengenai lokasi sumber gempa. Ia menyebut sebuah prediksi ilmiah harus mampu menjelaskan posisi persis segmen tumbukan lempeng atau sesar darat yang akan patah.

“Jika sumbernya berada pada zona tumbukan lempeng, misalnya, harus dapat diketahui segmen mana yang akan mengalami patahan,” kata Pepen pada Selasa (8/9/2026).

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, prakirawan cuaca amatir asal Kanada, Frankie MacDonald, mengunggah video di YouTube pada 3 September 2026. Pria tersebut meramalkan gempa bermagnitudo 7,0 hingga 9,0 akan melanda kawasan Jawa dan Jakarta.

Pepen menjelaskan, rentang magnitudo tersebut terlalu lebar untuk diakui sebagai sebuah prediksi. Menurut dia, selisih satu tingkat magnitudo saja setara dengan perbedaan lonjakan pelepasan energi gempa hingga 32 kali lipat.

“Karena itu, memberikan rentang yang sangat lebar seperti magnitudo 7,0 hingga 9,0 bukanlah informasi yang spesifik untuk sebuah prediksi gempa,” ujar Pepen.

BMKG membantah prediksi viral dari kreator konten Frankie MacDonald soal gempa besar di Jawa dan Jakarta sebelum 2026. (Ilustrasi Istimewa)

Belum Ada Metode Prediksi Pasti

Selain itu, waktu kejadian yang diklaim dalam video tersebut hanya menyebutkan tenggat sebelum tahun 2026 berakhir. Pepen menegaskan bahwa metode dan peralatan yang dipakai oleh pembuat konten sama sekali tidak dijelaskan kepada publik.

Hingga saat ini, para ilmuwan kegempaan di seluruh dunia belum menemukan metode yang terbukti sanggup memprediksi gempa secara deterministik. Menyadari adanya potensi gempa bumi di suatu wilayah tidak sama dengan memastikan kapan bencana itu akan terjadi.

Klaim tanpa dasar ini dinilai berbahaya karena dapat memicu kecemasan berlebih di tengah masyarakat luas. Dampak dari kepanikan publik tersebut dapat mengganggu jalannya aktivitas ekonomi, pariwisata, transportasi, hingga operasional pemerintahan.

Pepen mengimbau warga agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak dapat diverifikasi metodenya. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan lebih memusatkan perhatian pada upaya mitigasi bencana yang terukur.

“Masyarakat tidak perlu panik akibat klaim tersebut, tetapi tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena gempa bumi memang dapat terjadi kapan saja,” kata Pepen.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan