GAZA –Ternyata Israel tidak hanya melakukan pembantaian manusia atau genosida di Gaza. Beberapa organisasi lingkungan internasional menuding Negara Zionis itu juga melakukan ekosida, yaitu pemusnahan sumber daya dan ekosistem yang diperlukan dalam kehidupan manusia dengan cara eksploitasi lingkungan dan sumber daya alam secara masif.
Ekosida dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan berbagai masalah sosial, budaya, hingga kesehatan manusia di sekitar lingkungan tersebut. Masyarakat yang terkena dampak ekosida dapat mengalami krisis ekonomi akibat kehilangan sumber daya ekonomi dan pekerjaan.
Ekosida juga dapat menimbulkan penyakit yang mematikan pada tubuh manusia, serta mengubah budaya dan mengurangi keeratan interaksi sosial antarwarga.
Istilah ekosida pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli biologi dan ahli botani Amerika Serikat (AS) bernama Arthur W. Galston, selama penyelenggaraan Konferensi Pertanggungjawaban terhadap Perang yang diadakan di Washington.
Pada awalnya, ekosida diartikan sebagai bentuk kebrutalan tentara Amerika Serikat dalam menggempur tentara Barisan Nasional untuk Pembebasan Vietnam Selatan dalam Perang Vietnam. Tentara AS menyebarkan 19.000 ton zat kimia berbahaya di hutan-hutan yang menjadi persembunyian tentara Vietnam Selatan.
Akibatnya, gen manusia, flora, dan fauna di sekitarnya mengalami perubahan hingga mengakibatkan kematian. Setelah istilah ini diperkenalkan, ekosida menjadi istilah populer di kalangan aktivis lingkungan.
Independent Expert Panel (IEP) mendefiniskan Ekosida sebagai “tindakan yang melanggar hukum atau tindakan sembarangan yang dilakukan secara sadar bahwa ada kemungkinan besar terjadinya kerusakan lingkungan yang parah dan meluas atau jangka panjang yang disebabkan oleh tindakan tersebut”.
Terkait dugaan ekosida di Gaza, para pengamat mengibaratkannya dengan “lingkungan Nakba”, yang mengacu pada bencana yang terjadi pada tahun 1948, ketika milisi Yahudi mengusir 700.000 warga Palestina selama pendirian Israel sebagai sebuah negara.
“Penghancuran lahan merupakan praktik genosida sistematis seperti halnya penghancuran produksi pangan, sekolah, dan rumah sakit, yang terdokumentasi dengan baik di lokasi kejadian,” kata Lucia Rebolino dari Arsitektur Forensik, dikutip dari The New Arab (TNA), Senin (13/5/2024).
“Lingkungan bukan hanya kerusakan tambahan, tetapi juga target tentara Israel,” imbuh Lucia.





