Menjadi Petugas Haji Bukan Prestasi dan Prestise, Tapi  Pelayanan Sepenuh Hati

Petugas haji Indonesia. FOTO: Kemenag RI.
JAKARTA—Tak sedikit masyarakat yang ingin menjadi petugas haji. Sebagian kalangan menganggap kesempatan menjadi petugas haji merupakan prestasi, juga ‘prestise’ karena mendapatkan berbagai ‘kemewahan’—salah satunya naik haji gratis.

Dengan menjadi petugas haji, seseorang mendapatkan kesempatan bertugas di dua Kota Suci umat Islam sekaligus untuk melayani jamaah di sana. Walhasil, sekalian bertugas, para petugas haji bisa sekaian mengerjakan ibadah ritual haji, dengan ‘biaya negara’.

Mengingat berbagai “fasilitas mewah” yang didapatkan, maka tak heran dalam proses seleksi dan persaingan calon petugas haji begitu ketat, sengit, dan kadang menabrak prosedur. Sebab, ada ribuan orang yang ingin mendapatkan prestasi dan prestise sebagai petugas haji.

Di tengah fenomena ini, Ketua Komisi Nasional (Komnas) Haji, Mustolih Siradj mengingatkan kepada para petugas haji tidak hanya tertarik menjadi petugas karena mendapatkan “fasilitas mewah” tersebut. Namun, petugas haji diharapkan bisa lebih fokus pada tugas pokok dan fungsinya.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, kata Mustolih, petugas haji merupakan elemen sangat penting yang menentukan sukses dan tidaknya penyelenggaraan ibadah haji 2024—dari mulai sejak proses persiapan administrasi, pemberangkatan, puncak prosesi di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) sampai mengawal kembali ke tanah air dengan lancar dan sukses.

Mandat yang dipikul pun tidak ringan, mulai dari menyiapkan konsumsi, transportasi, bimbingan ibadah, melakukan pengawalan selama di Tanah Suci, menjamin keamanan, memberikan layanan kesehatan, menjamin keselamatan, hingga menggendong jamaah lansia yang mengalami kendala fisik dan kesehatan.

“Dengan tugas yang begitu luas, petugas haji direkrut bukan saja dari kalangan internal Kemenag, tetapi melibatkan lintas kementerian dan lembaga, antara lain unsur TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM serta pemerintah daerah. Termasuk  dari perwakilan ormas, perguruan tinggi, dan pondok pesantren. Hal ini penting, karena Indonesia negara terbesar pengirim jamaah haji setiap tahunnya perlu penanganan dan menejemen yang tidak sederhana,” kata Mustolih, Senin (13/5/2024).

Oleh sebab itu, Mustolih menambahkan, Komnas Haji berharap agar semua petugas, dalam bertugas, hendaknya melayani dengan sepenuh hati dan dedikasi mengikuti SOP (standar operational prosedur) yang sudah ditentukan.

“Terlebih di tahun 2024 ini masih mengusung tema ‘Haji Ramah Lansia’, para petugas diharapkan dapat memberikan layanan optimal yang humanis, menganggap jemaah adalah keluarga sendiri. Terkhusus terhadap para lansia agar dilayani dan dirawat seperti orang tua sendiri,” tegas Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ada beberapa titik krusial, tambah Mustolih, yang harus menjadi perhatian utama petugas. Pertama, pada fase gelombang kedatangan, di mana kesiapsiagaan petugas menjemput dan memberikan pengawalan ribuan jamaah dari bandara hingga dipastikan masuk ke hotel atau pemondokan. Di fase ini, jamaah yang baru tiba di Tanah Suci, baik Makkah maupun Madinah, biasanya akan punya antusiasme berlebih melakukan ibadah sunah. Jamaah yang baru ke tanah suci seringkali akan tersesat dan tidak jarang yang mengalami disorientasi psikologi.

Pos terkait