Berikutnya fase puncak haji, di tanggal 10-13 Dzulhijjah, di mana jamaah harus bergerak serentak menjalankan ibadah menuju kawasan Armuzna. Tempat-tempat ini menjadi titik paling rawan dan krusial, sehingga menjadi momen pertaruhan. Sebab, di tempat-tempat tersebut jamaah haji Indonesia akan membaur bersama jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Kegiatan di tiga lokasi itu, khususnya Mina, akan sangat menguras fisik dan stamina petugas. Bahkan, tak jarang ada yang ambruk dan sakit karena kelelahan mendampingi jamaah melakukan ibadah jumrah di jamarat—ditambah faktor cuaca panas yang ekstrim.
Ketiga adalah puncak proses haji selesai, di mana jadwal kegiatan ibadah wajib selesai, sehingga banyak waktu longgar, tinggal menjalankan ibadah sunnah. Jamaah biasanya menggunakan waktu-waktu ini untuk berwisata sembari menunggu jadwal pemulangan.
Dalam tahap ini, acapkali muncul anggapan tugas sebagai petugas haji telah rampung, sehingga perhatian dan konsentrasi kepada jamaah menurun.
“Anggapan ini tidak boleh terjadi, karena petugas harus bekerja sampai tuntas, memastikan jamaah tetap sehat dan selamat hingga pulang ke Tanah Air atau operasional haji resmi berakhir, ” anjur salah satu pengurus Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) itu.
Menurut Mustolih, peran dan reputasi petugas haji Indonesia selama ini sangat baik diakui oleh otoritas Arab Saudi, sehingga hampir setiap tahun mendapat apresiasi khusus karena mampu membawa ratusan ribu jamaahnya dengan tertib dan ramah.
Reputasi dan kinerja jajaran petugas haji ini membuat beberapa negara pengirim jemaah seperti Turki, Pakistan, Malaysia, Banglades, Nigeria dan beberapa negara lain merasa perlu melakukan studi banding untuk belajar manajemen haji ke Indonesia. Bagaimana cara mengelola ratusan ribu jemaah dengan baik. Prestasi semacam ini tentu harus dipertahankan.■





