Devisa Anjlok, Pakar Sebut Destry Damayanti Masuk Lingkaran Setan

Destry Damayanti, calon tunggal Gubernur BI. (Tangkapan Layar YouTube BI)

Pakar ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menilai Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menghadapi tantangan berat di tengah merosotnya cadangan devisa dan pelemahan nilai tukar rupiah.

​Pakar ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy menyoroti tantangan yang dihadapi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia di tengah ketidakpastian global. Ia menilai kondisi perekonomian nasional saat ini menuntut kecermatan tinggi.

​Penunjukan Destry oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai membatasi pilihan Dewan Perwakilan Rakyat. “Ini sama dengan membuat DPR tidak punya pilihan kecuali menyetujui subyektivitas Presiden Prabowo,” ujar Noorsy di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

​Ia memandang posisi Destry mirip dengan kebijakan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menunjuk Boediono atau Agus Martowardojo. Kendati Destry dikenal cermat menganalisis ekonomi, situasi saat ini terbilang sulit diprediksi.

Bacaan Lainnya

​Mengacu pada peringatan Dana Moneter Internasional (IMF), Noorsy menyebut Gubernur BI menghadapi situasi yang gelap. Hal ini tecermin dari anjloknya cadangan devisa Republik Indonesia sepanjang tahun ini.

​Cadangan devisa merosot dari USD154,6 miliar pada Januari 2026 menjadi USD145,3 miliar pada Juli 2026. Artinya, selama tujuh bulan, dana tersebut terkuras USD9,3 miliar atau berkurang kemampuan bayarnya sebesar USD1,32 miliar per bulan.

​Instrumen Moneter dan Pelemahan Rupiah

​Merosotnya cadangan devisa itu dinilai membuktikan instrumen moneter BI kurang ampuh. Noorsy mencontohkan kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kini berada pada rentang 7,2 persen hingga 7,63 persen.

​Dampak dari kenaikan tersebut memicu lonjakan suku bunga tabungan dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Akibatnya, terjadi persaingan suku bunga antara SRBI, SBN, dan tingkat bunga bank sentral Amerika Serikat.

​Kondisi tersebut diperparah oleh jatuhnya nilai tukar rupiah yang melampaui batas 10 persen. Pada saat yang sama, Indonesia masih sangat bergantung pada utang serta impor energi, bahan baku, dan teknologi.

​Peringatan Jelang Hari Kemerdekaan

​Ihwal kepekaan terhadap ekonomi global, Noorsy menegaskan hal itu belum cukup untuk memutus tren pelemahan rupiah. Persoalan utama terletak pada sistem ekonomi Indonesia secara struktural, fundamental, dan fungsional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan