Ali al-Talqani menegur keras akun media sosial yang mendoakan kehancuran Iran dan memuji Israel. Ia menyebut sikap itu melukai persatuan umat.
Penceramah agama asal Irak, Sayyid Ali al-Talqani, mengecam keras akun media sosial yang mendoakan kehancuran Iran dan justru memuji Israel di tengah memanasnya situasi kawasan Asia Barat. Sikap itu ia nilai sebagai bentuk penyimpangan dari semangat persatuan umat Islam.
Melalui unggahan di akun resmi Facebook dan Instagram, Ali al-Talqani menyinggung kecenderungan sebagian warganet yang membawa sentimen mazhab saat membahas Iran. Ia menilai logika semacam itu keliru dan menyesatkan.
Sentil Provokator Dunia Maya
Dalam potongan pernyataannya, ia menegaskan, “Ketika Anda menulis dan membela rakyat Muslim Iran dan Republik Islam, itu tidak lantas membuat Anda menjadi seorang Syiah.” Kutipan ini terekam dalam jejak unggahan yang terlacak dari akun resminya.
Ia lalu melanjutkan kritiknya kepada pihak yang secara terbuka mengagungkan Israel. “Namun, ketika Anda menulis ‘Netanyahu adalah Sultan Arab’, atau Anda memuji Israel, maka hal itulah yang menjadikan Anda seorang Zionis,” kata Ali al-Talqani dalam potongan unggahan tersebut.
Ali al-Talqani juga menegaskan kecamannya tidak ditujukan kepada kalangan Sunni secara umum. Dalam naskah yang beredar, ia justru membedakan antara mayoritas umat yang menjaga persatuan dan segelintir provokator yang aktif menyulut perpecahan di ruang digital.
Pada bagian akhir pesannya, ia mengingatkan soal tanggung jawab moral dan keagamaan atas sikap membela pihak yang disebutnya merampas tanah Arab dan umat Islam. Ia meminta para penyebar provokasi menyiapkan jawaban bila kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rasulullah Saw.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa perdebatan geopolitik di media sosial mudah berubah menjadi ajang adu domba. Di tengah arus informasi yang deras, Ali al-Talqani meminta publik lebih hati-hati agar tidak terseret pada narasi yang memecah belah umat.***





