Pelacak independen menaksir biaya operasi militer AS di Iran menembus USD100 miliar, meski angka resmi Pentagon baru mengonfirmasi biaya awal perang.
Biaya operasi militer Amerika Serikat di Iran kembali menjadi sorotan setelah Iran War Cost Tracker menaksir pengeluaran Washington telah menembus lebih dari USD100 miliar atau sekitar Rp1,7 kuadriliun, Rabu, 3 Juni 2026.
Angka itu bukan laporan resmi final Pentagon. Pelacak tersebut menyusun estimasi berdasarkan keterangan Pentagon kepada Kongres AS bahwa biaya enam hari pertama perang mencapai USD11,3 miliar, lalu menambahkan perkiraan belanja lanjutan sekitar USD1 miliar per hari.
Biaya Perang Jadi Sorotan Kongres
Mengutip laporan AP, Pentagon sebelumnya menyampaikan kepada Kongres bahwa biaya awal perang Iran mencapai USD11,3 miliar dalam satu pekan pertama. Angka itu belum mencakup seluruh potensi biaya lanjutan, termasuk penggantian amunisi, logistik, dan pengerahan pasukan.
Perdebatan biaya perang juga bergerak ke ranah politik dalam negeri AS. DPR AS pada Rabu, 3 Juni 2026, menyetujui resolusi kewenangan perang untuk membatasi aksi militer terhadap Iran. Langkah itu menjadi teguran politik terhadap strategi perang Presiden Donald Trump.
Resolusi tersebut belum otomatis menghentikan operasi militer. Namun, suara 215 berbanding 208 menunjukkan meningkatnya tekanan dari Kongres atas perang yang telah berlangsung sekitar tiga bulan dan ikut membebani ekonomi domestik AS.
Gencatan Senjata Tetap Rapuh
Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara pada 7 April 2026 setelah hampir enam pekan pertempuran. Namun, ketegangan belum sepenuhnya reda karena pasukan AS tetap berada di kawasan, sementara Selat Hormuz masih menjadi titik rawan.
Perundingan lanjutan di Islamabad juga belum menghasilkan terobosan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dikutip Al Jazeera pada 3 Juni 2026, menyebut belum ada kemajuan dalam pembicaraan dengan Washington.
Dengan situasi itu, angka biaya perang sebaiknya dibaca sebagai estimasi yang masih bergerak, bukan total resmi. Namun, perdebatan di Kongres menunjukkan satu hal: meski senjata sempat mereda, beban politik dan ekonomi perang Iran terus menghantui Washington.***





