Video “Mindfulness in the Age of Bad News” yang diunggah 21 Agustus 2026 dinilai sebagian warganet kurang peka. Pakar kajian budaya Umsura mengatakan latihan mengelola informasi tidak berlaku sama bagi semua orang.
Konten Maudy Ayunda berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” menuai kritik di media sosial. Video yang diunggah 21 Agustus 2026 membahas cara menghadapi derasnya berita buruk di dalam dan luar negeri.
Sebagian warganet menilai gagasan itu kurang peka terhadap masyarakat yang tidak memiliki keleluasaan mengambil jarak dari persoalan sosial. Sorotan utama jatuh pada anjuran diet berita atau mengurangi paparan berita buruk.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya Radius Setiyawan mengatakan latihan menyadari pikiran dan emosi serta mengelola paparan informasi pada dasarnya tidak keliru. Persoalan muncul ketika pengalaman itu diperlakukan seolah berlaku bagi semua orang.
“Mindfulness jangan dipahami seolah-olah semua orang memiliki kondisi sosial yang sama. Ada orang yang bisa memilih kapan membaca berita, kapan berhenti membaca berita, bahkan kapan mengambil jarak dari persoalan sosial. Tetapi ada masyarakat yang tidak bisa mengambil jarak karena persoalan itu menyangkut pekerjaan, penghasilan, keluarga, atau keselamatan mereka,” kata Radius, dikutip Kamis, 17 September 2026.
Konteks Sosial di Balik Nasihat
Radius, yang juga Wakil Rektor Umsura, mengatakan pembicaraan kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial. Cara seseorang merespons berita dipengaruhi posisi sosial dan sumber daya yang dimiliki.
“Berita buruk bagi seseorang bisa jadi hanya informasi. Tetapi bagi orang lain, berita itu adalah realitas hidupnya. Ketika terjadi kenaikan harga, kehilangan pekerjaan, bencana, atau kebijakan yang berdampak langsung, mereka tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Saya akan mengambil jeda dari berita ini’,” ujarnya.
Menurut Radius, yang dipersoalkan bukan konsep kesadaran penuh itu sendiri, melainkan konteks sosial di balik nasihat tersebut. Ia menilai menjaga kewarasan dan tetap peduli pada persoalan sosial tidak harus dipertentangkan.
“Kita perlu menemukan titik di mana kita tetap waras, tetapi tidak kehilangan kepekaan sosial,” pungkasnya.
Maudy Ayunda belum memberikan tanggapan dalam naskah sumber ini.***





