Sumatera gelap 36 jam. 13 juta pelanggan terdampak. Ayam mati di kandang, pabrik berhenti, rumah sakit kelabakan. Dan ini bukan pertama kalinya — lalu kapan berubah?
Pukul 18.44 WIB, Jumat 22 Mei 2026. Di Medan, lampu padam bersamaan. Di Banda Aceh, sinyal ponsel mati. Di Padang, mesin ATM berhenti. Dalam hitungan menit, gelap merayap dari ujung selatan hingga ujung utara Sumatera — dari Lampung sampai Aceh, melintasi sembilan provinsi sekaligus.
Ini bukan mati lampu biasa. Ini blackout — pemadaman massal yang melumpuhkan sistem kelistrikan interkoneksi secara bersamaan. Dan pemicunya, menurut penyelidikan awal, hanyalah satu sambaran petir di Merangin, Jambi.
Lantas bagaimana satu titik gangguan bisa memadamkan satu pulau penuh?
Cara Kerja Listrik yang Membuat Sumatera Rentan
Sistem kelistrikan Sumatera berjalan melalui jaringan interkoneksi — ratusan pembangkit dan gardu induk yang saling terhubung melalui tulang punggung transmisi bertegangan 275 kilovolt (kV). Listrik yang dihasilkan di Sumatera Selatan mengalir ke Sumatera Barat, lalu ke Sumatera Utara, dan seterusnya. Semua berjalan dalam keseimbangan halus antara pasokan dan permintaan.
Malam itu, sambaran petir menghantam jaringan transmisi di Merangin, Jambi, dan memutus jalur SUTET 275 kV ruas Muara Bungo–Sungai Rumbai — jalur yang menanggung aliran daya besar menuju Sumatera Barat. Begitu jalur itu lepas, keseimbangan sistem langsung goyah.
Yang terjadi selanjutnya adalah reaksi berantai. Frekuensi dan tegangan listrik di seluruh jaringan anjlok drastis. Sistem proteksi otomatis pada setiap pembangkit langsung bekerja: memutus diri dari jaringan untuk mencegah kerusakan permanen pada mesin. Pembangkit satu per satu keluar dari sistem. Dalam hitungan detik, seluruh interkoneksi Sumatera Bagian Utara dan Tengah terpisah. Gelap.
Inilah yang para insinyur sebut cascading failure — kegagalan yang menjalar seperti domino karena seluruh komponen saling bergantung dalam satu sistem terpusat.
Bukan Bencana Pertama
Yang membuat insiden ini lebih dari sekadar musibah teknis adalah polanya yang berulang. Pada 4 Juni 2024, blackout massal dengan modus identik juga menghantam Sumatera — kali itu lewat gangguan di SUTET 275 kV ruas Lubuk Linggau–Lahat, Sumatera Selatan. Hanya dua tahun berselang, di titik berbeda, dengan hasil yang sama persis: pulau besar yang gelap.





