Mahasiswa ITS Ciptakan SUBTRACK Petakan Zona Rawan Banjir

Mahasiswa ITS Mengatasi Banjir
Pengambilan data topografi di Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya dengan menggunakan drone LiDAR. - Humas ITS
Mahasiswa Teknik Geomatika ITS merancang SUBTRACK, sistem WebGIS yang memetakan zona prioritas infrastruktur permukiman terdampak banjir dan lalu lintas kendaraan berat di Surabaya. Data satelit Sentinel-1 dan survei lapangan jadi andalan.

Mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya merancang SUBTRACK, sistem pemetaan berbasis WebGIS untuk memetakan zona prioritas infrastruktur permukiman yang terdampak banjir dan lalu lintas kendaraan muatan berat. Inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap fenomena penurunan tanah di kawasan pesisir perkotaan.

Ketua Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG, Jalesveva Ananda Khozin, menjelaskan bahwa penurunan tanah di Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya, dipengaruhi oleh konsolidasi tanah akibat curah hujan serta tekanan mekanis dari lalu lintas kendaraan bermuatan berat.

Bacaan Lainnya

“Dari data InSAR, laju penurunan tanah di Kota Surabaya mencapai sekitar 6,1 milimeter per tahun terkonsentrasi di area barat dan utara,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Veva, dikutip Rabu (17/6/2026).

Integrasi Data Satelit dan Survei Lapangan

Proses pengolahan data memanfaatkan citra deformasi permukaan tanah dari satelit Sentinel-1 yang membawa sensor Synthetic Aperture Radar C-band. Satelit ini mampu mengukur deformasi permukaan hingga skala milimeter dalam berbagai kondisi cuaca dan waktu pengamatan.

Analisis deret waktu deformasi periode 2016-2025 dilakukan menggunakan perangkat lunak LiCSBAS dengan metode Small Baseline Subset yang memanfaatkan interferogram dari portal LiCSAR.

Pemodelan banjir dilakukan secara dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Data curah hujan bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, sedangkan data elevasi permukaan diperoleh dari Digital Surface Model hasil Light Detection and Ranging.

Selain data sekunder, pencacahan jumlah kendaraan berat yang melintas di Kelurahan Tanjung Perak juga dilakukan langsung di lapangan. “Pengambilan data jumlah kendaraan dilakukan dalam dua jam per hari selama tujuh hari,” papar Veva.

Pos terkait