Pemkot Surabaya menggelar Festival Riset dan Inovasi di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar. Enam inovasi diluncurkan, melibatkan lebih dari 70 kampus, sekolah, dan komunitas untuk perkuat budaya riset serta edukasi lingkungan.
Festival Riset dan Inovasi menjadi agenda utama dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya. Melalui festival tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan ruang kolaborasi antara akademisi, pelajar, komunitas, hingga dunia industri untuk memperkuat budaya riset sekaligus meningkatkan edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar, Surabaya, juga menjadi momentum peluncuran enam inovasi berbasis riset. Inovasi yang diperkenalkan meliputi Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan (EBT) berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji mengatakan, Festival Riset dan Inovasi merupakan salah satu dari dua agenda utama dalam rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove.
“Festival ini menjadi wadah mempertemukan hasil-hasil riset dan inovasi dengan masyarakat. Besok rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Mangrove Eco Run 3.0,” ujar Agus, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan festival tersebut melibatkan lebih dari 70 perguruan tinggi, sekolah, hingga komunitas lingkungan seperti Tunas Hijau yang memamerkan berbagai hasil inovasi kepada masyarakat. Selain pameran, BRIDA juga menghadirkan talk show yang mempertemukan akademisi dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Surabaya dengan kalangan industri.
“Kepala LPPM dari perguruan tinggi negeri dan swasta kita pertemukan dengan teman-teman industriawan, ada dari PT SIER. Nah, kita juga mengundang beberapa pakar dari kampus,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, BRIDA turut meluncurkan sejumlah inovasi yang dirancang sebagai media pembelajaran interaktif. Salah satunya Mangrove Throne, permainan berbasis geolocation yang mengajak anak-anak mengenal ekosistem mangrove melalui aktivitas di luar ruangan. “Jadi, adik-adik daripada di rumah, kita ajak bermain. Plus, dia harus ngisi (belajar) banyak hal terkait dengan mangrove, sehingga dia juga belajar,” terang Agus.





