Langkah Polda Metro Jaya membentuk tim khusus dinilai tepat sebagai deteksi dini, dengan catatan kepolisian tetap menghormati kebebasan berpendapat.
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai pembentukan Tim Preventive Strike oleh Polda Metro Jaya merupakan langkah taktis. Tim ini dinilai krusial mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat di Jakarta.
”Meskipun situasi keamanan dipastikan aman dan terkendali, tetapi harus tetap waspada terhadap adanya penyusupan,” tutur Susaningtyas pada Ahad (2/8/2026). Ia menyebut penyusupan tersebut bisa merembet hingga mengganggu stabilitas ekonomi dan politik.
Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto menyatakan tim ini dibentuk untuk memitigasi kerusuhan. Gabungan personel dari pelbagai direktorat operasional ini disiapkan untuk menindak tegas kelompok pemicu kekacauan.
Mitigasi Isu Demonstrasi Agustus
Ihwal beredarnya isu demonstrasi besar pada Agustus mendatang, kepolisian mengaku belum menerima surat pemberitahuan resmi. Meski demikian, polisi terus memantau penyebaran selebaran dan ajakan aksi di media sosial secara intensif.
Susaningtyas secara khusus menyoroti fenomena pemasangan pagar tinggi di beberapa pusat perbelanjaan terkait isu tersebut. “Harus ada penyelidikan yang berkorelasi dengan kekhawatiran pihak gedung,” ungkap perempuan yang akrab disapa Nuning tersebut.
Selain itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Saputra Hasibuan menganggap kesiapsiagaan ini amat positif. Langkah pencegahan dinilai jauh lebih baik dibandingkan aparat yang kerap baru bergerak setelah terjadi gangguan nyata.
Mengawal Pemolisian Demokratis
Dukungan serupa datang dari peneliti bidang kepolisian Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto. Menurutnya, parameter keberhasilan penegak hukum bukan hanya kuantitas penindakan, melainkan terciptanya rasa aman bagi warga.





