Super El Nino Menguat 0,1 Derajat Celsius per Minggu

​Ilustrasi Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fenomena iklim Super El Nino atau Godzilla El Nino resmi terbentuk. Super El Nino Menguat 0,1 Derajat Celsius per Minggu. Indeks harian El Nino tercatat telah mencapai lebih dari dua derajat Celsius. (AI Generate) 

Fenomena iklim Super El Nino dikonfirmasi telah terbentuk dengan kenaikan suhu setiap minggu. BMKG mengimbau warga mewaspadai dampak kekeringan dan kebakaran lahan.

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyatakan fenomena iklim Super El Nino atau Godzilla El Nino resmi terbentuk. Indeks harian El Nino tercatat telah mencapai lebih dari dua derajat Celsius.

​Ihwal pembentukan tersebut, indikator utama terpantau sejak akhir bulan lalu. Kondisi anomali suhu permukaan laut ini terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan secara berkala.

​”Sudah resmi bahwa Super El Nino terbentuk 31 Juli 2026. Dengan demikian sudah tak perlu ada perdebatan lagi soal peluang terbentuknya atau apapun nama yang disematkan pada Super El Nino,” kata Erma melalui akun X pribadinya, Ahad.

Bacaan Lainnya

​Selain memastikan status fenomena tersebut, Erma juga membeberkan tingkat kecepatannya. “Kenaikannya 0,1 derajat Celsius setiap minggu,” ujarnya.

​Ancaman Kekeringan dan Kebakaran Lahan

​Selaras dengan temuan itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi Indonesia kini memasuki fase El Nino kuat. Kondisi ini dapat mengurangi pembentukan awan hujan.

​Berdasarkan data dasarian atau per sepuluh hari, indeks Nino 3,4 tercatat pada angka +2,26. Sementara itu, Indeks Osilasi Selatan (SOI) berada di posisi -28,2 yang menandakan penguatan suhu panas.

​Sebelumnya, BMKG memprakirakan 91,43 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada dasarian pertama Agustus 2026. Sisanya sebesar 8,57 persen berada pada kategori curah hujan menengah.

​Untuk mengantisipasi cuaca yang lebih kering, otoritas meminta warga menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan tabir surya. Masyarakat juga diimbau menghemat air dan segera melaporkan indikasi titik api.

​”Jangan bakar sampah atau lahan sembarangan, terutama di area mudah terbakar seperti di lahan gambut, semak belukar, lahan kering, dan hutan. Waspada pada titik panas dan potensi kebakaran,” tulis BMKG melalui keterangan resminya.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan