Polisi membentuk tim gabungan untuk mengungkap kematian misterius Sumarna di Waduk Jatiluhur. Sementara pakar menduga pelaku hilangkan jejak dengan menenggelamkan korban.
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Pipit Rismanto menyatakan kasus kematian Sumarna, satpam yang ditemukan tewas dengan tangan terborgol di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menjadi atensi khusus kepolisian daerah.
Kepolisian telah menerjunkan tim gabungan untuk mempercepat pengungkapan perkara tersebut.
”Ya, Purwakarta, ini sedang dalam proses. Kita perintahkan jajaran kami, ini ada Pak Dirkrimum juga, ya,” kata Pipit kepada awak media di Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat, Bandung, Rabu (29/7/2026).
Pipit menyebutkan penyidik Polres Purwakarta telah melakukan gelar perkara berdasarkan hasil investigasi sementara dan olah tempat kejadian perkara.
Penyelidikan dan Keterangan Saksi
Jasad Sumarna (40) ditemukan mengambang di Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026) dengan kondisi kedua tangan terborgol ke belakang. Hasil autopsi mengungkap korban tewas sebelum berada di dalam air akibat adanya jeratan pada tubuhnya.
Kepolisian sektor setempat hingga kini telah memeriksa sedikitnya 15 saksi guna menelusuri rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan meninggal dunia.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta Ajun Komisaris Polisi I Made Purwantara mengatakan pihaknya telah menyusun sejumlah hipotesis. “Kami sudah menyusun beberapa hipotesis dan seluruh kemungkinan itu masih kami dalami lebih lanjut,” ujar I Made Purwantara.
Analisis Pakar Forensik dan Kriminologi
Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menilai terdapat indikasi kuat bahwa kematian korban bukan peristiwa spontan. Menurutnya, pelaku berupaya menghilangkan jejak kejahatan dengan menenggelamkan tubuh ke dalam air.
”Tampaknya pelaku atau para pelaku cukup memahami cara meminimalkan bukti yang tertinggal pada tubuh korban, yakni dengan menenggelamkan jasad ke dalam air,” kata Reza melalui kanal YouTube Metro TV. Ia menduga tindakan tersebut telah dipikirkan sebelumnya.
Sementara itu, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menduga borgol yang melilit tangan korban merupakan milik korban sendiri yang dikuasai pelaku setelah penganiayaan. Ia memandang minimnya rekaman kamera pengawas serta kondisi kawasan yang sepi menjadi kendala utama penyidikan.
”Yang paling terlihat adalah adanya missing link antara korban dengan pelaku,” ujar Adrianus dalam tayangan Primetime News Metro TV. Ihwal kendala tersebut, ia menyarankan kepolisian memperluas penyelidikan di luar tempat kejadian perkara, termasuk menelusuri kelompok yang kerap beraktivitas di sekitar waduk pada malam hari.
Menanggapi berbagai informasi yang beredar, Inspektur Jenderal Pipit Rismanto mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi kebenarannya. “Kami mengimbau juga jangan ada informasi yang simpang siur sehingga menyesatkan publik sehingga mispersepsi, miskomunikasi. Ya, biarkan tim kami turun ke lapangan untuk mengungkap,” pungkasnya.***




