Operasi pencarian delapan korban hilang kontak di Selat Sunda memasuki hari keenam. Area penyisiran diperluas sementara temuan barang pada hari kelima dipastikan bukan milik rombongan.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten Komisaris Besar Maruli Ahiles Hutapea memastikan barang temuan tim SAR bukan milik rombongan jurnalis yang hilang. Kapal Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang itu hilang di Selat Sunda sejak Senin lalu.
“Setelah pemeriksaan dan konfirmasi pemilik kapal, dua jaket pelampung oranye bertuliskan MILLES.II dinyatakan bukan milik kapal,” kata Maruli dalam keterangan, Ahad (13/9/2026). Ia menyebut jaket pelampung di kapal berwarna merah, kuning, dan ungu.
Polisi juga mengonfirmasi jeriken biru bertutup hitam dan helm merah plastik temuan Kapal Negara SAR Tetuka bukan berasal dari kapal korban. Jeriken tersebut beraroma minyak sayur, berbeda dengan spesifikasi bahan bakar kapal rombongan.
Perluasan Sektor Pencarian
Ihwal perluasan pencarian, Kepala Basarnas Lampung Deden Ridwansyah menyatakan operasi hari keenam difokuskan menyapu jalur perairan. Penyisiran laut dimaksimalkan kembali setelah penyisiran darat di Pulau Sebesi dan Anak Krakatau selesai.
“Pencarian terus kami kembangkan berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya,” ujar Deden. Perluasan jalur penyisiran ini diperlukan untuk memastikan lokasi keberadaan kapal tidak terlewat oleh petugas di lapangan.
Operasi gabungan membagi pencarian laut ke enam sektor dengan total luas 3.947 nautical mile persegi. Pencarian udara menggunakan helikopter HR-3604 dan pesawat nirawak termal juga menjangkau Sektor H seluas 2.063 nautical mile persegi.
Sebelumnya, jejak sinyal ponsel dari salah satu korban sempat terdeteksi di sekitar perairan Pulau Sebesi. Kepala Basarnas Banten Al Amrad menyatakan titik itu telah disisir berulang kali tetapi belum membuahkan hasil.
Batas Waktu Operasi Pencarian
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M. Syafii menyatakan tenggat waktu pencarian merujuk pada standar panduan internasional (IAMSAR Guidelines). Operasi dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari hingga ini, Senin (14/9/2026).
Pada hari terakhir operasi standar tersebut, Basarnas akan menggelar evaluasi. Rapat ini melibatkan lintas instansi, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tim medis, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Nanti pada saat hari ketujuh, kita akan laksanakan rapat evaluasi yang melibatkan semuanya tentang bagaimana kelanjutan operasi ini,” kata Syafii, Jumat, 11 September 2026.
Selain itu, Syafii menerangkan bahwa pengerahan sarana pencarian laut dibatasi setiap pukul 17.00 WIB karena keterbatasan operasional armada. Kendati armada bersandar pada sore hari, operasi tidak berhenti karena pengawasan terus dilakukan.
“Kami terus-menerus mengimbau kepada seluruh pengguna arus laut ini untuk ikut melaksanakan pencarian,” ujarnya.***





