Polisi Menduga Pelaku Pembunuhan Satpam Jatiluhur Lebih dari Satu Orang

Polisi mengarahkan penyidikan ke masalah keuangan dalam mengusut kasus kematian satpam Jatiluhur, Sumarna. (Ilustrasi)

Borgol yang melilit tangan Sumarana ternyata bukan miliknya sendiri. Temuan itu membuka babak baru penyelidikan kematian satpam Waduk Jatiluhur, yang kini mengarah pada dugaan pelaku lebih dari satu orang.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Hendra Rochmawan menyampaikan hal itu, Jumat (31/7/2026). Ia menegaskan, penelusuran sementara mengarahkan penyidik pada satu simpulan.

“Dari beberapa penelusuran kita, pelakunya tidak hanya satu. Kita duga seperti itu,” ujar Hendra.

Sumarna (40), yang menjabat Komandan Regu Perlindungan Masyarakat (Linmas) di desanya, ditemukan tewas mengambang di kawasan Tanggul Kayat, Desa Kembang Kuning, Kabupaten Purwakarta, Jumat (24/7/2026) pagi. Kedua tangannya terborgol ke belakang, seragam dinasnya masih melekat utuh di tubuhnya.

Bacaan Lainnya

Borgol Pelaku dan Dua Motif yang Didalami

Hendra menjelaskan, borgol yang mengikat tangan Sumarna kondisinya masih utuh dan diduga bukan kepunyaan korban. Perlengkapan satpam milik Sumarna sendiri, termasuk borgolnya, justru ditemukan tersimpan rapi di saku celananya.

Temuan ini membuat penyidik menyingkirkan dugaan perampokan sebagai motif. Ponsel, dompet, dan sepeda motor korban semuanya masih utuh di lokasi kejadian.

Dua motif kini didalami secara paralel. Pertama, motif uang, menyusul terungkapnya dana pengganti iuran BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp1.050.000 untuk 14 anggota Linmas yang belum sempat dibagikan Sumarna. Kedua, dugaan keterlibatan kelompok geng motor, yang mencuat setelah beredarnya sejumlah unggahan di media sosial.

Lima Jam Menghilang, Rute yang Tak Wajar

Penyidik turut merekonstruksi jam-jam terakhir Sumarna. Ia diketahui menghilang dari pos jaga sekitar lima jam sebelum akhirnya ditemukan.

Rekaman kamera pengawas milik Perum Jasa Tirta II memperlihatkan Sumarna berada sekitar 3,2 kilometer dari pos jaganya, menempuh rute yang dinilai tidak wajar menjelang kematiannya. Temuan ini melengkapi hasil autopsi di Rumah Sakit Sartika Asih, yang menunjukkan luka jeratan di leher serta luka di kepala korban, sementara paru-parunya nyaris tak berisi lumpur maupun air.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan