Maestro Lukis Nasirun Meninggal, Tinggalkan Jejak Seni dan Tasawuf

Pelukis Nasirun. (Tangkapan layar Youtube @BillMohdor) 

Pelukis Nasirun berpulang secara mendadak. Sang maestro meninggalkan warisan seni kontemporer yang kental dengan perpaduan mistisme Jawa, nilai tasawuf Islam, dan kedalaman spiritualitas.

Penulis sekaligus sahabat almarhum, Agus Noor, mengonfirmasi kabar berpulangnya maestro lukis Indonesia, Nasirun, pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB di Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepergian sosok yang lekat dengan karya seni bercorak tasawuf ini mengejutkan publik karena terjadi secara mendadak.

​”Mendapat kabar, pelukis Nasirun meninggal dunia sekitar pukul 05.30 pagi tadi. Alfatihah buat almarhum. Saya bersaksi ia orang yang baik,” kata Agus melalui unggahan di media sosial Instagram.

​Tetangga sekaligus kerabat Nasirun, Bimo Aditya, membenarkan informasi tersebut. Ia menyebut jenazah sang pelukis saat ini masih disemayamkan di Rumah Sakit (RS) AMC, Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

​Menurut Bimo, pelukis kelahiran Cilacap itu tidak memiliki riwayat penyakit serius dan masih beraktivitas normal sebelumnya. “Kemarin sore masih ngobrol sama saya. Belakangan hanya mengeluhkan nyeri di dada dan asam lambung,” ujar Bimo.

​Jalan Seni dan Tasawuf

​Ihwal perjalanan hidupnya, pria bernama asli Masyhuri ini lahir di Desa Karangwangkah, Cilacap, pada 1 Oktober 1965. Nama Nasirun yang bermakna tertolong disematkan lantaran ia kerap sakit semasa kecil. Ia tumbuh dalam keluarga yang memadukan ajaran Islam dari sang ayah dan nilai Sunda Wiwitan dari ibunya.

​Latar belakang tersebut membentuk pandangan spiritual Nasirun dalam berkarya. Ia meyakini seni rupa bukan sekadar wujud estetika, melainkan alat komunikasi untuk menyebarkan nilai ketuhanan. Baginya, melukis adalah jalan paling indah untuk mengenal Tuhan.

​Karya Nasirun memancarkan napas zuhud dan praktik penyucian jiwa dari keterikatan duniawi. Ia kerap melukiskan kaligrafi Arab dan tokoh Punakawan seperti Semar sebagai lambang cahaya makrifat. Simbol ini dimaknai sebagai upaya menghapus hijab atau sekat antara manusia dan Sang Pencipta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan