Inayah Wahid Pastikan Mubes NU 2026 Bebas Urusan Calon Ketua

Inayah Wulandari Wahid. (Tangkapan Layar Youtube Satu TV) 

Musyawarah Besar Warga NU 2026 akan merumuskan arah organisasi abad kedua. Forum ini ditegaskan bebas dari urusan dukung-mendukung kandidat di Muktamar ke-35.

​Penanggung jawab Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2026, Inayah Wahid, menegaskan forumnya tidak mengarahkan dukungan untuk kandidat tertentu. Mubes yang akan digelar di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Jombang, pada Jumat, 28 Agustus 2026, tersebut murni berfokus pada masa depan NU.

​Inayah menyatakan musyawarah ini bukanlah bagian dari mekanisme formal Muktamar ke-35 NU. Fokus utamanya adalah merumuskan arah organisasi saat memasuki abad kedua. “Mubes ini bukan tentang siapa yang akan memimpin NU,” ujar Inayah seperti dikutip dari NU Online, Kamis (20/8/2026).

​Ia menambahkan, diskusi akan menitikberatkan pada bentuk NU yang ingin dibangun serta cara agar kebesaran organisasi kian terasa manfaatnya. Hal ini merespons berbagai tantangan kompleks seperti perubahan sosial, persoalan demokrasi, ketimpangan, hingga krisis lingkungan.

Bacaan Lainnya

​Suara Akar Rumput

​Ihwal peserta, Mubes akan melibatkan ekosistem jamaah yang sangat luas. Para kiai, nyai, akademisi, aktivis, hingga kelompok rentan akan berpartisipasi langsung menyampaikan gagasan dan pengalaman keseharian mereka.

​Keterlibatan warga ini diarahkan semata untuk memperluas percakapan mengenai orientasi pengabdian atau khidmah NU. “Forum ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewenangan struktur organisasi NU,” kata Inayah.

​Rekomendasi Abad Kedua

​Selain itu, Mubes dijadwalkan menghasilkan Deklarasi Warga NU untuk Abad Kedua. Dokumen ini akan diserahkan sebagai rekomendasi bagi pelaksanaan Muktamar ke-35 dan kepengurusan periode mendatang.

​Sejumlah tokoh nasional diagendakan hadir dalam musyawarah di Jombang tersebut. Beberapa di antaranya adalah Kiai Haji A. Mustofa Bisri, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Mahfud Md., Lukman Hakim Saifuddin, dan Alissa Wahid.

​Inayah mengingatkan bahwa masa depan organisasi juga ditentukan oleh jutaan warga yang menghidupkan nilai-nilai NU di kampung, pesantren, hingga tempat kerja. “Pertanyaan yang hendak dibawa bukan siapa yang akan memimpin, tetapi untuk siapa kebesaran NU itu diabdikan,” pungkasnya.***

Pos terkait