NU dan Muhammadiyah Bersaing di Ranah Kecerdasan Buatan

NU mendigitalisasi khazanah pesantren lewat KangSantri AI dan Digdaya NU. (Ilustrasi AI Generate) 

Nahdlatul Ulama meluncurkan KangSantri AI dan ekosistem Digdaya NU, mendahului Muhammadiyah yang bersiap merilis ChatHPT. Keduanya bersaing menghadirkan layanan keislaman berbasis AI.

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bergerak di ranah kecerdasan buatan. NU secara senyap telah menghidupkan ekosistem digital KangSantri AI dan Digdaya, sementara Muhammadiyah bersiap merilis ChatHPT.

Langkah ini menunjukkan komunitas santri tak sekadar menjaga tradisi. Mereka sigap menyongsong masa depan dengan mengawinkan literatur klasik dan algoritma mutakhir.

Lakpesdam PBNU merilis KangSantri AI pada Rabu (17/6/2026) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat. Platform ini menggunakan basis data lebih dari 7.000 kitab kuning.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiah menyebut inovasi itu bukti kaum sarungan mampu menaklukkan tantangan zaman. “Kami merasa sangat istimewa karena ada santri yang mengembangkan platform ini,” tuturnya.

AI Tanpa Menggeser Otoritas Kiai

Founder SantriAI.com, Arif Balya, menegaskan platform ini tidak berniat menggeser otoritas kiai atau ulama. Kecerdasan buatan itu murni alat bantu.

Masyarakat bisa menelusuri khazanah keislaman dari ribuan literatur klasik. Mereka tak perlu tersesat dalam lautan informasi tanpa sanad di internet.

Jauh sebelumnya, PBNU di bawah KH Yahya Cholil Staquf meletakkan fondasi transformasi digital lewat Digdaya NU. Ekosistem ini merombak budaya kerja jam’iyah.

Digdaya mengintegrasikan lebih dari 15 layanan digital. Mulai dari persuratan, pendataan pengurus, hingga manajemen kader.

Administrasi yang dulu berbulan-bulan kini tuntas dalam hitungan jam. Absensi kode bar memangkas anggaran alat tulis kantor hingga 50 persen.

Asisten AI-NU menyusun draf surat resmi dalam hitungan detik. Ia juga menjawab rujukan regulasi secara real-time dan menyesuaikan gaya bahasa.

Tren AI dan Tantangan Digitalisasi

Praktisi digital Hasanuddin Ali memaparkan survei soal penerimaan masyarakat. Pada 2024, pengguna internet berstatus “AI antusias” baru 20 persen. Angka itu melonjak menjadi 40 persen pada 2025.

Tren ini menuntut pengurus organisasi ikut berlari. Transformasi digital bukan lagi urusan divisi IT semata.

Setiap ketua dan sekretaris di semua tingkatan memikul tanggung jawab langsung. Mereka dituntut melek teknologi agar tata kelola lebih transparan dan akuntabel.

Tantangan terbesarnya, kata Ufi Ulfiah, memindahkan kekayaan intelektual pesantren ke ruang digital tanpa menanggalkan nilai dan sanad keilmuan. Lewat KangSantri AI dan Digdaya NU, kaum nahdliyin membuktikan akselerasi digital dan pelestarian tradisi bisa berjalan beriringan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan