Stok Beras 25 Juta Ton Versi Amran: Cukup 10 Bulan, tapi Hanya 4,5 Juta Ton yang Ada di Gudang

Mentan Andi Amran Sulaiman pastikan ketahanan pangan RI aman dengan stok beras 25 juta ton. (Ilustrasi AI Generate) 

Mentan Amran klaim stok beras 25 juta ton cukup 10 bulan tanpa impor. Namun hanya 4,5 juta ton yang kini tersimpan di gudang Bulog.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjamin stok beras nasional aman, di tengah puluhan negara yang mulai mengimbau warganya menyiapkan cadangan logistik darurat.

“Kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya cadangan dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Senin, 2 November 2026.

Ia meminta publik tidak panik menghadapi ketidakpastian rantai pasok dunia yang dibayangi memanasnya geopolitik dan krisis iklim.

Bacaan Lainnya

Rincian Angka 25 Juta Ton

Angka 25 juta ton disampaikan Amran seusai rapat koordinasi ketahanan pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026). Ia menyebutnya tertinggi sepanjang sejarah.

Cadangan beras yang disimpan Perum Bulog tercatat sekitar 4,5 juta ton. Menurut laporan beberapa media, jumlah itu dinilai cukup menyambut Natal dan Tahun Baru 2026/2027.

Sekitar 10 juta ton berasal dari padi di sawah yang belum dipanen. Angka ini masih berupa potensi, belum menjadi beras siap salur.

Sisanya, sekitar 10 juta ton, tersimpan di hotel, restoran, katering, dan rumah tangga. Total ketiganya mencapai sekitar 24,5 juta ton, lalu dibulatkan.

Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 2,5 juta ton per bulan, Amran menghitung pasokan itu cukup untuk sepuluh bulan. “25 bagi 2,5 juta berarti itu 10 bulan ke depan,” katanya.

Ia mengeklaim stok bertahan hingga sekitar Juli 2027 tanpa impor. “Tahun lalu tidak ada impor, tahun ini juga tidak ada impor,” ujarnya.

Dunia Bersiaga, dengan Alasan Berbeda

Sementara itu, menurut laporan beberapa media, sedikitnya 33 negara mulai mengimbau warganya menyiapkan kebutuhan dasar di rumah.

Pemerintah Inggris lewat kampanye Be Ready menganjurkan persediaan makanan dan air untuk tiga hari. Jepang tengah menyiapkan imbauan serupa, tiga hari hingga seminggu.

Alasannya beragam. Inggris menyinggung krisis iklim, ketergantungan teknologi, dan ancaman negara musuh. Jepang bersiap menghadapi gempa besar dan letusan gunung.

Artinya, imbauan itu tidak seluruhnya lahir dari krisis pangan atau logistik. Daftar lengkap 33 negara tersebut juga belum dirinci.

Di dalam negeri, Kementerian Pertanian mempercepat optimalisasi lahan tidur, perbaikan irigasi, distribusi benih unggul, dan pompanisasi ke berbagai daerah.

Amran mengingatkan, bergantung pada impor di tengah situasi dunia saat ini sangat berbahaya.

“Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar,” kata Amran. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan