Singkong Setengah Hektare Ludes Dicuri Saat Harga Tembus Rp3.050/Kg, Petani: Kami Sedang Paceklik

Pemilik akun IG Iluh Pujiati menunjukan sisa-sisa singkong yang dijarah pencuri. --Tangkapan Layar

Kasus pencurian hasil pertanian kembali meresahkan masyarakat. Pemilik akun Instagram @iluhpujiati mengunggah video yang memperlihatkan kondisi lahannya seluas setengah hektare di mana tanaman singkong miliknya ludes dijarah pencuri.

Meski lokasi tidak dicantumkan secara spesifik dalam unggahan utamanya, pada konten lain, ia mengodekan bahwa lahan pertanian tersebut berada di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur. “Mungkin truknya sudah penuh,” ujar Iluh saat memperlihatkan sisa-sisa akar singkong di lahannya, dikutip Kamis (29/10).
Menurut Iluh, tanaman singkong tersebut sebenarnya baru berusia 5 hingga 6 bulan dan idealnya baru siap dipanen pada usia 9 bulan. Namun, di tengah kondisi paceklik, seluruh spesifikasi singkong asal sudah berumbi tetap diterima oleh pihak pabrik.
Ia pun mempertanyakan klaim tingkat kemiskinan yang disebut menurun. “Pejuang tani kita memasuki musim paceklik. Yang kata Pak Presiden kemiskinan turun, enggak Pak. Ini lahan setengah hektare singkong ludes dicuri,” ungkapnya.
Di akhir videonya, Iluh meminta aparat kepolisian dan TNI untuk meningkatkan pengawasan di kawasan pertanian warga. “Pak Polisi dan Pak Tentara jangan hanya menanam saja, tolong diawasi lahan. Yang menanam kita, yang memanen orang lain,” tegasnya.

Reaksi Publik dan Tudingan Pemicu Pencurian

Unggahan Iluh mendadak tular dan memantik beragam reaksi dari warganet. Sebagian besar netizen mengecam aksi pencurian massal tersebut dan menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap nasib para petani.
Beberapa di antaranya menduga maraknya penjarahan tanaman pangan belakangan ini dipicu oleh melambungnya harga komoditas dan bahan baku di pasaran.“Astaghfirullah… Harga tepung tapioka naik 100% sekarang. Mungkin karena itu singkong banyak dimaling penjahat. Kasihan petaninya,” tulis salah satu warganet di kolom komentar.
Warganet lain menyuarakan keresahan atas maraknya pencurian komoditas pangan dalam skala besar yang dinilai semakin mengkhawatirkan. “Sakitnya sampai ke tulang ini. Dulu tuh enggak ada berita model gini. Belakangan ini ada yang semangkanya hektar-hektaran hilang, jagung hilang, ini singkong. Setengah hektar bisa kelar semalam, berapa tikus yang datang itu?” timpal netizen lainnya.
Selain menyampaikan keprihatinan, warganet juga menyoroti masalah keamanan di wilayah pedesaan dan menyarankan pemerintah agar memfasilitasi sarana penunjang bagi petani, seperti jaringan penerangan, air, serta sistem pengawasan kamera pengawas (CCTV) hingga ke area perkebunan terpencil.

Kenaikan Harga Singkong dan Kebijakan Pemerintah

Maraknya aksi pencurian ini bertepatan dengan melonjaknya harga singkong di tingkat petani. Mengutip data Kementerian Pertanian (Kementan), harga singkong di wilayah Lampung kini menembus Rp3.050 per kilogram—naik signifikan dari harga sebelumnya yang sempat merosot hingga Rp700 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut sempat diapresiasi oleh perwakilan petani singkong, Tri, saat berdialog dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Pringsewu, Lampung, Ahad (25/10) lalu.
“Terima kasih Pak Prabowo atas bantuan untuk petani singkong. Sekarang harga singkong Rp3.050. Pupuk turun, produksi meningkat, alhamdulillah,” kata Tri.
Menanggapi dinamika pasar, Mentan Amran menegaskan komitmen pemerintah untuk menghentikan impor singkong demi melindungi harga dan pendapatan petani dalam negeri.
“Waktu itu kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa petani Lampung meminta harga dinaikkan. Arahan Bapak Presiden jelas: mulai detik itu, hentikan impor dari negara lain. Kalau ada impor, saya tutup,” tegas Mentan Amran.
Pemerintah berharap kombinasi antara penetapan harga yang layak, penurunan biaya produksi, dan perlindungan pasar lokal dapat meningkatkan kesejahteraan petani, sembari diimbangi oleh peningkatkan pengawasan keamanan agar hasil jerih payah petani tidak terus menjadi sasaran kejahatan.***
Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan