Pemerintah menyiapkan tambahan kuota Pertalite saat Brent menembus level tertinggi lima bulan. Sebagian subsidi masih mengalir ke truk industri.
Pemerintah memastikan kuota Pertalite 2026 bakal ditambah. Kepastian itu mengemuka pada hari yang sama ketika harga minyak Brent melonjak ke level tertinggi dalam lima bulan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikannya di kantornya, Jumat (23/10/2026). Kajian penambahan kuota digelar akhir Oktober, dan kesiapan anggarannya diklaim sudah dihitung.
“Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji,” ujar Bahlil, sebagaimana disampaikan kepada wartawan.
Di sesi yang sama, Bahlil membeberkan temuan yang kurang sedap. Saat berkunjung ke Kalimantan, ia mendapati truk tambang dan perkebunan masih mengantre BBM bersubsidi.
“Mobil-mobil yang untuk tambang, sebagian untuk kebun, itu masih ada sebagian yang mengantre,” ujarnya.
Subsidi Merembes ke Tangki Industri
Menurut Bahlil, banyak kendaraan yang semestinya terlarang membeli BBM bersubsidi justru leluasa memakainya. Ia mencontohkan truk tronton.
Penindakan mulai berjalan. Ditjen Gakkum ESDM menangani dugaan pengangkutan sekitar 406 ribu liter solar setelah perkaranya diserahkan Lanal V Semarang.
Kebocoran itu kian mahal karena konsumsi Pertalite sedang membengkak. Pemicunya, selisih harga Pertalite dan Pertamax yang melebar sejak 10 Juni 2026.
Kala itu Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite bertahan di Rp10.000. Jaraknya melebar menjadi Rp6.250 per liter.
Data BPH Migas mencatat penyaluran harian Pertalite menanjak dari 75.795 kiloliter menjadi 85.589 kiloliter pada Juli. Lonjakannya hampir 13 persen.
Angka itu sempat melandai pada Agustus ke kisaran 84.368 kiloliter per hari, tetapi masih jauh di atas level sebelum harga Pertamax dikerek.
Pangsa Pertalite dalam konsumsi bensin nasional pun menggelembung dari 75,4 persen menjadi 80,3 persen. Bahlil menyebutnya sebagai shifting konsumen dari RON 92 ke RON 90.
Ironisnya, kuota Pertalite 2026 justru dipangkas menjadi 29,27 juta kiloliter, menyusut 6,28 persen dari 31,23 juta kiloliter tahun lalu.
Dampaknya merembet ke stok. Cadangan Pertalite nasional menyusut ke kisaran 16–18 hari, dan Bahlil menargetkan stok kembali di atas 20 hari dalam sepekan.
Bali paling dulu merasakannya. Pemprov Bali memberlakukan ganjil-genap pembelian Pertalite sejak 17 Oktober dan memperpanjangnya hingga 23 Oktober.
Selama antrean mengular, konsumsi Pertalite di Pulau Dewata melonjak dari sekitar 2.200 kiloliter menjadi 3.000 kiloliter per hari.
Tagihan Membengkak Seiring Brent
Tambahan kuota berarti tambahan beban APBN. Persoalannya, harga minyak justru sedang menanjak tajam.
Pada Jumat, kontrak Brent ditutup di kisaran USD117 per barel, melonjak sekitar 3,4 persen dalam sehari. Serangan Houthi ke Arab Saudi memicu kekhawatiran pasokan.
Rupiah juga masih tertekan. Pada hari yang sama, rupiah ditutup melemah ke Rp18.080 per USD dan terkoreksi 7,89 persen sejak awal tahun.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menghitung harga keekonomian Pertalite sekitar Rp17.200 per liter, dengan asumsi Brent USD100 dan kurs Rp17.800 per USD.
Dengan Brent dan kurs yang kini lebih tinggi, setiap liter tambahan yang disalurkan otomatis lebih mahal ketimbang hitungan tersebut.
Pemerintah pernah memperkirakan setiap kenaikan USD1 per barel berpotensi menambah beban bersih APBN sekitar Rp6 triliun.
Hingga September 2026, belanja subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp376,8 triliun atau 84,3 persen dari pagu, melonjak 54,1 persen secara tahunan.
CORE Indonesia memperkirakan migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite saja bisa menambah beban kompensasi Rp4–17 triliun.
Meski begitu, Bahlil memastikan harga BBM subsidi tidak dinaikkan hingga akhir 2026. Artinya, seluruh selisih harga tetap ditanggung negara.
Anggota Dewan Energi Nasional Muhammad Kholid Syeirazi mengingatkan, ukuran keberhasilan bukan stok nasional yang dinyatakan aman, melainkan akses warga yang berhak.
Keputusan akhir bulan nanti akan menjawab satu hal: pemerintah sekadar menambah pasokan, atau sekaligus menambal kebocoran yang mengalirkannya ke tangki keliru.***





