Listyo Sigit Prabowo. Kisahnya mirip Kuda Troya, bukan sekadar patung kayu besar. Ia adalah siasat, tipu muslihat, dan kecerdikan yang dibungkus hadiah.
Patung kuda raksasa itu dibuat berongga. Di dalam perutnya, sejumlah prajurit Yunani bersembunyi, menunggu malam, menunggu kelengahan, menunggu saat gerbang benteng dibuka oleh tangan penghuninya sendiri.
Troya tidak tumbang karena temboknya kurang tinggi. Troya tumbang karena terlalu percaya pada sesuatu yang dianggap hadiah.
Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri yang menjabat sejak era Jokowi, bertabur penghargaan dan pujian, kini menjadi tersangka dalam perkara dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo.
Jika kelak terbukti di pengadilan, ini tentu menjadi ironi politik yang luar biasa. Orang yang dipercaya menjaga keamanan negara justru dituduh melakukan sesuatu terhadap kepala negara yang seharusnya dijaganya.
Rongga Kuda Troya menemukan korelasinya di tubuh Polri. Sejak Presiden Prabowo melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto pada 1 Oktober 2026, mutasi demi mutasi berlangsung seperti orang membongkar rumah lama. Barangkali ingin memastikan tidak ada barang yang tertinggal di bawah karpet.
Hingga awal November, Suyudi tercatat melakukan lima gelombang mutasi besar. Gelombang pertama berlangsung pada 2 Oktober 2026, dengan rotasi 88 perwira. Sehari setelah pelantikan, sapu organisasi sudah mulai bekerja. Bersih-bersih hingga ke level perwira menengah.
Gelombang kedua, pada 10 Oktober, mencakup 199 perwira. Dua hari kemudian, 12 Oktober, sebanyak 10 perwira tinggi dan menengah kembali mengalami rotasi. Pada 29 Oktober, lima perwira masuk daftar mutasi.
Lalu, seusai penetapan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka, datang gelombang kelima melalui Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2467/XI/KEP./2026, 2 November 2026. Sebanyak 264 perwira tinggi dan menengah bergeser, termasuk enam posisi Wakapolda serta sejumlah jabatan strategis di Mabes Polri dan wilayah.
Tentu, mutasi bukan vonis. Orang yang dipindahkan belum tentu bersalah, sebagaimana orang yang dipertahankan belum tentu benar. Namun, ketika perkara besar kasus penyadapan Presiden prabowo sedang terbuka, mutasi menjadi gerak-gerik yang menarik perhatian.
Orang awam pun boleh bertanya: ini penyegaran organisasi atau sedang ada yang dibersihkan? Pertanyaan boleh saja. Jawaban tentu harus menunggu bukti.
Kuda Troya, sekali lagi, adalah patung kuda kayu raksasa yang digunakan bangsa Yunani untuk menyusup ke kota Troya. Sebuah hadiah yang ternyata membawa petaka. Ia menjadi lambang bahaya yang tidak datang dengan wajah menakutkan, melainkan dengan wajah yang menyenangkan.
Prabowo harus hati-hati.
Bangsa Yunani, konon, mengepung Troya selama sepuluh tahun. Temboknya tak tertembus. Senjatanya tak mempan. Kalau pintu tak bisa didobrak dari luar, barangkali pintu itu bisa dibuka dari dalam.
Begitulah pikiran Odysseus. Ia tahu bahwa kekuatan tidak selalu terletak pada otot. Kadang-kadang, akal yang licin lebih ampuh daripada seribu pedang.
Epeius membuat kuda kayu raksasa. Prajurit pilihan masuk ke dalam perutnya. Pasukan Yunani lainnya berpura-pura mundur, meninggalkan kuda itu sebagai persembahan.
Orang Troya bersorak. Mereka mengira perang telah usai. Kuda itu ditarik masuk ke kota, bahkan mungkin disambut dengan perasaan bangga.
Malam tiba. Prajurit Yunani keluar dari perut kuda. Gerbang dibuka. Pasukan yang tadi pura-pura pergi kembali menyerbu. Troya jatuh.
Begitulah sejarah mengajarkan: musuh paling berbahaya kadang bukan yang berdiri di luar pagar sambil membawa pedang, melainkan yang sudah duduk di ruang tamu, minum teh, dan dipanggil sahabat.
Di sekitar Presiden Prabowo ada Teddy Indra Wijaya, Letnan Kolonel Infanteri yang menjabat Sekretaris Kabinet. Teddy pernah menjadi ajudan Presiden Joko Widodo. Ia terpilih sebagai asisten ajudan Jokowi pada periode 2016–2019 ketika masih berpangkat Letnan Satu. Kemudian, sejak 2020 hingga Oktober 2024, ia menjadi ajudan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Namanya semakin dikenal karena selalu lekat mengawal Prabowo selama kampanye Pilpres. Ia juga pernah menjabat Wakil Komandan Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu sebelum ditunjuk menjadi Sekretaris Kabinet.
Semua itu adalah rekam jejak pendidikan dan karier. Bukan bukti pengkhianatan. Bukan pula alasan untuk menuduh seseorang sebagai Kuda Troya.
Namun, dalam politik, kedekatan selalu menyisakan pertanyaan yang tak mudah dijawab: loyalitas itu kepada siapa? Kepada negara, kepada jabatan, kepada orang yang memberi kepercayaan, atau kepada diri sendiri?
Sebab, Kuda Troya tidak selalu berbentuk patung kayu. Ia bisa berupa pujian yang terlalu manis, kedekatan yang terlalu nyaman, atau reputasi yang begitu harum hingga orang lupa membuka jendela untuk memeriksa apakah ada sesuatu yang membusuk di dalam rumah.
Ada pula persoalan lain yang bisa menjadi batu sandungan bagi Prabowo: polemik surat keterangan penyetaraan pendidikan SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Perkara ini berlanjut ke Mahkamah Agung. Putusan kasasi yang membatalkan surat keterangan tersebut memantik perdebatan mengenai konsekuensi hukum dan politiknya. Isu pemakzulan Gibran pun mulai bergema.
Bagi Prabowo, persoalan ini bisa menjadi duri di sepatu. Duri kecil, tetapi kalau dibiarkan bikin pincang perjalanan. Apalagi jika terus membesar, akan menjadi bahan bakar bagi pertarungan politik 2029. Hati-hati Pak Prabowo.***





