Importir Asia membeli sedikitnya 500 ribu ton gandum Australia dan Argentina untuk mengganti kargo Laut Hitam yang terlambat. Angka itu pembelian regional, bukan volume khusus Indonesia.
Gangguan pelayaran dan infrastruktur ekspor gandum di kawasan Laut Hitam mulai mengubah rantai pasok pangan Asia. Importir di kawasan membeli sedikitnya 500 ribu ton gandum dari Australia dan Argentina untuk menggantikan kargo Rusia dan Ukraina yang terlambat atau terancam dibatalkan.
Laporan Reuters yang terbit 3 September 2026 tidak memerinci berapa bagian dari 500 ribu ton itu yang dibeli importir Indonesia. Pembelian regional antara lain melibatkan Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka.
Gandum Australian Premium White dibeli sekitar USD315–USD330 per ton, termasuk biaya dan pengangkutan. Gandum Argentina diperdagangkan pada kisaran USD310–USD315 per ton. Kargo Laut Hitam untuk kedatangan Agustus–September sebelumnya dipesan pada kisaran USD260–USD280 per ton.
Selisihnya sekitar USD30–USD70 per ton, atau kira-kira 11–27 persen. Harga acuan gandum Chicago naik sekitar 35 persen sejak akhir Juni dan sempat mencapai level tertinggi dalam tiga setengah tahun.
Gangguan di Musim Puncak Ekspor
Kenaikan harga berawal dari serangan terhadap pelabuhan, kapal, serta infrastruktur pengiriman gandum di kawasan Laut Hitam. Sejumlah perusahaan pelayaran menunda atau membatalkan pemuatan. Pada 31 Agustus, serangan pesawat nirawak merusak terminal gandum UEP milik ADM di Pelabuhan Odesa, Ukraina.
Pengolah gandum di Asia sebelumnya memesan sekitar 2 juta–2,5 juta ton gandum Laut Hitam untuk pengiriman Juli–September. Jumlah itu diperkirakan memenuhi 30–50 persen permintaan impor kawasan pada periode tersebut.
Reuters menyebut Indonesia sebagai pembeli gandum terbesar kedua dunia. Kebutuhan gandum nasional praktis dipenuhi melalui impor untuk tepung terigu, mi, roti, biskuit, dan sebagian pakan.
Dalam kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat, pemerintah berkomitmen meningkatkan pembelian gandum AS menjadi 2 juta ton per tahun. Impor dari Amerika Serikat pada 2025 tercatat sekitar 1,1 juta ton, naik dari 750 ribu ton setahun sebelumnya.
Harga Tepung Belum Otomatis Naik
Kenaikan harga gandum impor belum berarti harga tepung, mi, dan roti langsung naik dalam besaran yang sama. Pabrik penggilingan dapat memiliki stok lama, kontrak berjangka, atau mekanisme lindung nilai. Dampak juga dipengaruhi kurs rupiah dan ongkos distribusi.
Hingga Minggu, 6 September 2026, belum tersedia perincian publik mengenai volume gandum Laut Hitam tujuan Indonesia yang terlambat, jumlah kargo pengganti yang dibeli penggilingan Indonesia, serta persediaan gandum dan tepung nasional.
Tanpa data tersebut, kesimpulan bahwa harga mi atau roti pasti segera naik masih terlalu dini. Selisih harga impor hingga USD70 per ton menjadi indikator awal adanya tekanan biaya.***





