Beras Porang Madiun Mencari Tempat di Meja Makan Masyarakat Indonesia

Ilustrasi proses pengolahan umbi porang menjadi beras alternatif. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Kabupaten Madiun memperkenalkan beras porang sebagai pangan alternatif dalam Apkasi Otonomi Expo 2026. Di balik peluangnya, porang memerlukan pengolahan yang tepat dan klaim manfaatnya tak boleh berlebihan.

Porang selama ini lebih banyak dikenal sebagai komoditas ekspor dan bahan baku industri. Pemerintah Kabupaten Madiun kini mencoba membawanya lebih dekat ke meja makan masyarakat dalam bentuk beras porang.

Produk tersebut diperkenalkan dalam Apkasi Otonomi Expo 2026 di Kabupaten Tangerang, Banten, yang berlangsung pada 27–29 Agustus 2026. Pameran bertema “Jelajahi Ragam Komoditas Indonesia Tanpa Batas” itu dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk pangan dan usaha mikro, kecil, dan menengah dari berbagai daerah.

Bupati Madiun Hari Wuryanto mengatakan beras porang menjadi salah satu produk utama yang dibawa daerahnya.

Bacaan Lainnya

“Kami berharap produk-produk dari Kabupaten Madiun bisa dikenal oleh daerah-daerah lain. Khususnya beras porang. Ini produk yang khas dari Madiun,” kata Hari dalam keterangannya.

Selain beras porang, stan Kabupaten Madiun menampilkan tepung porang, sambal pecel, brem, kerupuk lempeng, produk kriya, sepatu, dan bola.

Dari komoditas ekspor menjadi makanan

Kabupaten Madiun memiliki varietas porang yang telah dilepas dan diberi nama Porang Madiun-1. Komoditas tersebut ditanam pada lahan seluas lebih dari 1.602 hektare.

Sentra budidayanya tersebar di lima kecamatan, yakni Saradan, Gemarang, Kare, Dagangan, dan Wonoasri.

Sebagian porang yang dihasilkan selama ini dipasarkan ke luar negeri, termasuk China dan Jepang. Umbinya diolah menjadi sejumlah produk, terutama tepung dan bahan baku industri makanan.

Melalui beras porang, pemerintah daerah ingin memperluas pemanfaatannya untuk konsumsi domestik. Produk ini ditawarkan sebagai pilihan bagi masyarakat yang ingin memvariasikan sumber karbohidrat selain beras dari padi.

“Adapun porang tersebut di antaranya diolah menjadi beras porang dan tepung yang bernilai ekonomi tinggi,” begitu keterangan Pemerintah Kabupaten Madiun, dikutip dari ANTARA.

Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan posisi porang. Komoditas yang sebelumnya banyak dijual sebagai bahan mentah atau setengah jadi mulai dikembangkan menjadi produk siap konsumsi dengan bentuk yang lebih akrab bagi masyarakat Indonesia.

Namun, perluasan pasarnya masih menghadapi tantangan. Konsumen perlu diyakinkan mengenai rasa, tekstur, cara memasak, harga, keamanan produk, dan perbedaannya dibandingkan nasi dari beras padi.

Mengandung glukomanan

Porang atau Amorphophallus muelleri merupakan tanaman umbi yang mengandung glukomanan. Senyawa tersebut merupakan serat pangan larut air yang dapat membentuk gel dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan pengental maupun pembentuk tekstur dalam industri pangan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebut porang dapat diolah menjadi beragam makanan, antara lain mi dan beras analog. Tepungnya juga digunakan dalam industri nonpangan, termasuk kosmetik, farmasi, perekat, dan pelapis.

Kandungan glukomanan membuat porang kerap dipromosikan sebagai pangan yang memberi rasa kenyang lebih lama. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan beras porang dapat menyembuhkan diabetes atau otomatis menurunkan berat badan.

Penelitian yang dimuat dalam HAYATI Journal of Biosciences pada 2026 menemukan tepung porang memengaruhi kadar gula darah setelah makan pada tikus diabetes. Namun, penelitian tersebut dilakukan terhadap hewan dan tidak menemukan penurunan signifikan pada ukuran resistensi insulin atau HOMA-IR.

Hasil itu belum dapat diterjemahkan sebagai bukti bahwa beras porang merupakan obat diabetes pada manusia. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menilai dosis, frekuensi konsumsi, komposisi produk, dan dampak jangka panjangnya.  

Harus melalui pengolahan yang aman

Umbi porang tidak dapat langsung dikonsumsi setelah dipanen. Bahan mentahnya mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal, pahit, dan iritasi.

Karena itu, porang harus menjalani proses pengolahan untuk menurunkan kadar kalsium oksalat sebelum digunakan sebagai bahan makanan. Proses tersebut dapat meliputi pengirisan, pencucian, pengeringan, penggilingan, pengayakan, dan pemurnian.

Penelitian Universitas Gadjah Mada menunjukkan kualitas bahan baku dan proses pemisahan partikel berpengaruh terhadap kadar glukomanan serta kalsium oksalat dalam tepung porang. Produk siap konsumsi karena itu perlu memenuhi standar keamanan pangan dan memiliki izin edar yang sesuai.

Konsumen juga perlu membaca komposisi pada kemasan. Produk yang dipasarkan dengan nama beras porang dapat memiliki formulasi berbeda-beda dan tidak selalu terbuat dari porang sepenuhnya.

Bagi Kabupaten Madiun, tantangannya kini bukan hanya memproduksi porang. Pemerintah daerah dan pelaku UMKM perlu mengubah komoditas tersebut menjadi pangan yang aman, terjangkau, mudah dimasak, dan diterima lidah masyarakat.

Jika tantangan itu terjawab, beras porang berpeluang memperluas pilihan pangan lokal Indonesia tanpa harus dibebani janji kesehatan yang melampaui bukti ilmiah.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan