Kiai Asep meminta KH Miftachul Akhyar tidak maju sebagai Rais Aam PBNU. Di arena Muktamar, penolakan terhadap Kiai Miftach dan upaya pencoretan ulama Lirboyo kian memanas.
Ketua Umum Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim meminta KH Miftachul Akhyar tidak mencalonkan diri sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Permintaan ini mengemuka di tengah persiapan Muktamar ke-35 NU.
Kiai Asep menilai NU membutuhkan figur ulama yang mampu menghadirkan keteduhan, keteladanan akhlak, dan wibawa keulamaan. “Saya merasa kasihan kepada beliau. Saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan sebagai Rais Aam,” tegasnya.
Ihwal keterbukaannya, Kiai Asep mengaku memiliki kedekatan historis dengan Kiai Miftach sejak 1995. Kedekatan ini bermula ketika ia menjabat Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Surabaya dan mengajak Kiai Miftach menjadi pengurus.
Selain itu, ia mengusulkan Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Jazuli sebagai pengganti. Menurutnya, kejernihan pemikiran tokoh tersebut lebih krusial dibandingkan kondisi fisik dalam memimpin Syuriyah PBNU.
Tarik-Menarik AHWA Memanas
Dinamika penentuan sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdhi (AHWA) kian memanas dalam pembahasan tata tertib Komisi Organisasi di Jombang, Sabtu, 29 Agustus 2026. Salah satu pemicunya adalah dugaan upaya menyingkirkan ulama poros Lirboyo, seperti KH Nurul Huda Djazuli dan KH Anwar Mansur, dari bursa AHWA.
Kabar tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah alumni Pesantren Lirboyo yang memimpin PCNU dan PCINU. Mereka menolak tegas jika ulama khos yang banyak berjasa menjaga marwah NU tersebut dikeluarkan dari daftar kandidat.
Penolakan serupa juga dialami oleh Kiai Miftachul Akhyar. Sebagian muktamirin dikabarkan menolak usulan agar nama Kiai Miftach masuk ke dalam jajaran AHWA akibat polemik dinamika kepengurusan PBNU sebelumnya bersama KH Yahya Cholil Staquf.
Di sisi lain, muncul usulan baru agar nama KH Hasib Wahab turut dimasukkan ke dalam bursa. Nama-nama ini bergabung dengan deretan tokoh yang sebelumnya mengemuka, seperti KH Anwar Iskandar, KH Ma’ruf Amin, hingga KH Mustofa Bisri.
Sebelumnya, sebanyak 557 pemilik suara sah yang terverifikasi dijadwalkan mengikuti tabulasi penentuan anggota AHWA. Mekanisme ini diharapkan bebas dari politik transaksional agar sembilan ulama terpilih dapat bermusyawarah dengan jernih di Ndalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah.
Terkait dinamika penolakan dan tarik-menarik kepentingan ini, salah satu Ketua PCNU asal Kalimantan mengingatkan bahwa pemilihan AHWA bukan sekadar persoalan kubu.
“Ini menyangkut penghormatan kepada ulama sepuh dan bagaimana marwah NU tetap dijaga,” katanya. ***





