Penyidik mengarahkan kasus kematian satpam Waduk Jatiluhur ke dugaan motif uang, setelah terungkap Sumarna memegang dana BPJS Ketenagakerjaan milik anggota Linmas yang dipimpinnya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara mengungkapkan, penyidik kini mendalami dugaan motif uang di balik kematian satpam Waduk Jatiluhur, Sumarna (40).
Sumarna ditemukan tewas mengambang di kawasan Tanggul Kayat pada Jumat (24/7/2026), tangannya terborgol ke belakang. Ia diketahui menjabat Komandan Regu atau Danton Perlindungan Masyarakat (Linmas) di desanya.
Sebagai Danton, Sumarna dipercaya memegang Dana Bagi Hasil Pajak (DBHP) senilai Rp1.050.000, pengganti iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan untuk 14 anggota Linmas. Uang itu belum sempat dibagikan saat ia dibunuh.
“Uang ganti BPJS Ketenagakerjaan itu udah dibayarkan, tapi dititipkan ke kepalanya,” kata kepala desa setempat kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Otopsi Perkuat Dugaan Pembunuhan
Hasil otopsi menunjukkan indikasi kuat kekerasan sebelum Sumarna ditenggelamkan. Tim forensik menemukan luka jeratan di leher serta luka di kepala korban, sementara paru-parunya nyaris tak berisi lumpur atau air.
Dua unit borgol turut diamankan dari lokasi. Satu di antaranya masih melilit pergelangan tangan korban saat ditemukan.
Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Pipit Rismanto menyebut penyidik masih mendalami penyebab pasti kematian itu, kendati indikasi kekerasan sudah mengarah jelas. “Diduga ada luka karena benturan benda keras, atau meninggal sebelum dibuang ke dalam air ini,” kata Pipit di Mapolda Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Tim Gabungan Turun, Hoaks Penangkapan Beredar
Pipit mengatakan, Polda Jawa Barat menerjunkan tim gabungan Direktorat Reserse Kriminal Umum untuk membantu Polres Purwakarta mempercepat pengungkapan kasus.
Sementara itu, kabar penangkapan pelaku yang sempat viral di media sosial dipastikan hoaks. Unggahan itu menyertakan foto dua pria berseragam tahanan oranye yang tidak berkaitan dengan kasus ini. “Informasi yang beredar di media sosial itu tidak benar, belum ada yang kami amankan,” kata Made.
Sejauh ini, penyidik telah memeriksa 15 saksi, menggelar tiga kali pra-rekonstruksi, dan menelusuri rekaman CCTV di kawasan Objek Vital Nasional yang dikelola Perum Jasa Tirta (PJT) II. Belum ada satu pun tersangka yang ditetapkan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lebih dulu mendatangi Mapolres Purwakarta dan rumah duka pada Senin (27/7/2026), mendesak kepolisian mempercepat pengungkapan kasus.
“Kita meminta agar kasus ini segera terungkap karena ini menyangkut rasa aman masyarakat di Jawa Barat,” kata Dedi Mulyadi di Mapolres Purwakarta.***


