KEDIRI–Momen bersejarah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi panggung kebersamaan dan keberagaman bagi berbagai komunitas di Situs Ndalem Pojok, Persada Sukarno, Wates, Kabupaten Kediri, Rabu (1/5/2024).
Di rumah masa kecil Presiden Sukarno, para tokoh agama, aktivis, seniman, dan budayawan merayakan Hardiknas dengan tema yang mendalam: “Maha Penting Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika”.
Dibuka dengan doa bersama lintas agama, rangkaian tasyakuran hari Pendidikan Nasional diawali dengan santunan anak yatim, selamatan, pagelaran seni dan diskusi kebangsaan. Ketua Panitia Taysakuran Hardiknas, Juwaini mengatakan, acara tasyakuran terbuka untuk umum. Panitia mengundang semua teman-teman aktivis, seniman, budayawan, komunitas untuk hadir.
“Kami memberikan ruang kepada teman-teman untuk berkreasi, barangkali ada yang ingin menampilkan seni budaya, kita akan menggelar dialog kebangsaan, berdoa bersama dan selamatan,” tambah pria dari Ormas Syiah Ahlulbait sekaligus Anggota Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kab Kediri ini.
Ketua Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTA) Kediri, Lukito Sudiarto menambahkan, kegiatan tasyakuran Hardiknas sudah dilakukan sejak tahun 2013 di Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno. “Menurut kami, kumpul bersama, berdoa, bakti sosial santunan anak yatim, berdiskusi adalah bagaian pendidikan kebersamaan dan persatuan. Walau kita dari komunitas yang berbeda, dari latar layar belakang yang berbeda, tapi kita bisa bersatu, saling menghormati-saling menghargai. Perbedaan jangan menjadikan perpecahan,” ujar Lukito Sudiarto.
Lukito menegaskan, pendidikan persatuan nasional sangat penting di tengah arus globalisasi yang menguat. “Singkatnya, pendidikan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi kita tetap satu. Maka menurut kami di dalam dunia yang global ini, pendidikan persatuan nasional sangatlah penting. Satu untuk Indonesia, bukan untuk kelompok, bukan untuk golongan tertentu. Jadi pada moment Hardiknas ini perlu kita kuatkan pendidikan persatuan Bhinneka Tunggal Ika,” tandas Lukito.





