Mengapa “Titik Nol” Sukarno Penting Dinarasikan Ulang?
Saking vitalnya titik nol sejarah, banyak pihak yang berupaya ‘menguasainya’ untuk berbagai kepentingan—terutama kekuasaan. Dan untuk bisa menguasai suatu bangsa, sebagaimana ditulis oleh Juri Lina, dalam bukunya, Architect of Deception: Secret Story of Freemasonry, perlu dilakukan upaya manipulasi sejarah.
“Ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri. Pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, dengan mengatakan jika leluhur mereka itu bodoh dan primitif,” tulis Lina.
Barangkali apa yang dipaparkan Lina itu sedang berlangsung di Indonesia. Barangkali sedang berlangsung penghancuran sejarah negara ini. Salah satunya, barangkali, menghancurkan sejarah titik awal Bapak Bangsa, Ir. Sukarno, dengan mengaburkan fakta tempat dan tahun kelahirannya.
Narasi sejarah yang dipahami banyak orang menyebut bahwa Sukarno lahir di Surabaya—sebagian lain menyebutnya Blitar—pada 6 Juni 1901. Berangkat dari narasi ini, sosok Sukarno digambarkan sebagai pribadi yang tumbuh di lingkungan ‘nasionalis-sekuler’, ‘menomorsekiankan’ spriritualitas.
Perjuangan Sukarno digambarkan sebagai perjuangan ala Barat—yang hanya sesekali melibatkan dunia pesantren sebagai ‘penasihat sekilas’. Nasihat pesantren seolah hanya ‘barang lewat’.
Nasionalisme Sukarno dinarasikan sebagai nasionalisme Barat yang tidak akur dengan semangat Ketuhanan.
Pemahaman ini, menurut redaksi Samudra Fakta dan Reddocs.id, agak aneh. Pasalnya, jika publik bersedia membaca sejarah Sukarno dan produk-produk konstitusi yang dia bidani dengan teliti—misalnya dengan adanya kalimat “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” pada alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) RI 1945—sebenarnya secara fair perlu mengakui bahwa nilai-nilai religius atau Ketuhanan tak bisa lepas dari perjalanan sejarah sejarah fisik maupun psikologisnya.
Namun, faktanya, Sukarno yang dikenal mayoritas publik saat ini adalah Bung Karno yang seolah-olah memperjuangkan kemerdekaannya dengan cara Barat: berpolitik ‘sekuler’, berdiplomasi secara ‘sekuler’, dan berdemokrasi ‘sekuler’. Dan Sukarno versi itu adalah Sukarno yang dinarasikan lahir di Surabaya pada tahun 1901.
Penggambaran tersebut, menurut pandangan redaksi, adalah pandangan yang kontradiktif. Jika Sukarno seorang pemimpin sekuler, kenapa dia setuju terma “Ketuhanan Yang Maha Esa” pada puncak dari sumber segala sumber hukum di negaranya, Pancasila?
Pasalnya terma “Ketuhanan” dan “sekularisme”—yang dalam konteks tertentu menjurus ke “ateistik”—adalah dua hal yang bertolak belakang. Apakah mungkin dasar Ketuhanan dirumuskan oleh seorang pemimpin sekuler?
Pertumbuhan pribadi Sukarno yang dinarasikan lahir pada 1901 juga mendegradasi peran banyak ulama tasawuf di berbagai pesantren di Indonesia, mulai dari Ploso, Jombang, hingga Sukanegara, Cianjur, terhadap pembentukan kesadarannya tentang Ketuhanan, kemanusiaan, dan rasa cinta terhadap tanah air sebagai Bangsa Indonesia asli.
Sukarno yang dinarasikan lahir pada tahun 1901 seakan ‘dibentuk’ sebagai tokoh yang jauh dari pandangan sufistik-religius. Jauh dari prinsip Bangsa Indonesia asli.






1 Komentar
Komentar ditutup.