Salah satu sosok penting yang punya peran besar mendukung Presiden Pertama Republik Indonesia (RI) Sukarno mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah Syekh Musa. Ulama tasawuf dari Sukanegara, Cianjur, Jawa Barat inilah yang pertama kali membuat dan mengibarkan bendera merah-putih.
Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara, dalam buku Api Sejarah Jilid 2 (2010), mencatat bahwa ada empat ulama besar yang menyokong upaya Sukarno untuk meraih kemerdekaan Bangsa Indonesia—yang bermuara pada pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.
“Pertama, Syekh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua, Drs. Sosrokartono, kakaknya RA. Kartini. Ketiga. KH. Abdul Mukti. Dan keempat, KH. Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim, pada waktu itu, juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang,” tulis Mansur dalam bukunya, dikutip pada Kamis (15/8/2024).
Tentang sosok Syekh Musa, sebagaimana dilansir Radar Cianjur, penduduk Sukanegara biasa memanggilnya dengan nama Mama Ajengan Cikiruh atau KH. Ahmad Basyari.

Syekh Musa diyakini berasal dari Jombang, Jawa timur. Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat Jombang, Syekh Musa merupakan putra dari Syekh Nawawi atau Raden Mas Maryonani, dari Mojoagung, Jombang.
Syekh Nawawi, menurut cerita turun-temurun yang beredar di Jombang, adalah salah satu sisa pasukan Diponegoro yang ikut bertempur dalam Perang Jawa. Dia dipercayai sebagai keturunan Keraton Cirebon.
Dalam berbagai cerita tutur yang berkembang di Jombang, Syekh Musa juga diyakini sebagai keturunan Kiai Hasan Besari Jetis, Ponorogo. Kiai Hasan Besari juga diyakini sebagai moyang dari tokoh pergerakan nasional sekaligus guru Sukarno, H.O.S Cokroaminoto, serta guru dan pembimbing pujangga Jawa Ronggowarsito.
Sementara itu, mengutip dari laman Harokah Islamiyah, Syekh Musa menyumbangkan empat hal penting untuk Bangsa Indonesia dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertama, dia disebut sebagai salah satu ulama tasawuf yang ikut menggembleng mental rohani Sukarno, Kedua, Syekh Musa mengizinkan pesantrennya—Pesantren Al-Basyariyah, Sukanegara, Cianjur—menjadi tempat tirakat dan merumuskan strategi kemerdekaan.
Ketiga, warna favoritnya menjadi inspirasi bendera Indonesia, merah dan putih. Dan keempat, menganjurkan tradisi peringatan Isra’ Mikraj setiap tahun di Istana Negara”.
Dalam buletin Oposisi edisi 7, yang terbit perdana pada bulan Maret 2005, tertulis bahwa Syekh Musa mendirikan Pondok Pesantren Al-Basyariyah pada tahun 1911. Pesantren ini berada di kaki bukit Kampung Cikiruh, Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
Syekh Musa, menurut catatan Oposisi, mendirikan pesantren setelah menimba ilmu dari KH. Hasyim Asy’ari, Jombang—yang juga merupakan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.
Salah satu santri awal Syekh Musa adalah A.A. Wiranatakusuma, yang juga dikenal dengan sapaan Dalem Haji—Bupati Cianjur periode 1912-1920 serta Bupati Bandung periode 1920-1931 dan 1935-1942. Dari Wiranatakusuma inilah, menurut laporan Oposisi, Bung Karno mengenal Syekh Musa pada akhir 1930-an.
Di era kemerdekaan, Wiranatakusuma diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri pertama oleh Presiden Sukarno.
Wiranatakusuma, sebagaimana ditulis Oposisi, belajar banyak hal dari Syekh Musa. Antara lain, belajar pergerakan nasional, mendukung perjuangan politik Sarekat Islam, hingga mewarnai pemerintahan daerah dengan amaliah ahlussunnah wal jamaah atau aswaja. Menurut ingatan kolektif masyarakat Jawa Barat, Wiranatakusuma dikenal sebagai bupati yang merakyat dan sekaligus religius.
Wiranatukusuma lah yang pertama kali memperkenalkan tradisi peringatan Isra’ Mikraj di Masjid Agung Bandung pada tahun 1924. Tradisi Isra’ Mikraj yang digagas Wira di Bandung juga dibawa Sukarno ke Istana Negara, setelah dia menjadi Presiden RI. Tradisi ini masih berlangsung hingga sekarang.
Sedangkan menurut sejarawan Ahmad Baso, Syekh Musa lah yang menganjurkan agar Bung Karno merayakan peringatan Isra’Mikraj setiap tahun di Istana Negara.
Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno tercatat dua kali berkunjung secara terbuka ke pesantren Syekh Musa, yaitu pada 1950 dan 1952.






