Syekh Musa, Ulama Tasawuf yang Pertama Kali Membuat dan Mengibarkan Bendera Merah-Putih

KH. Ahmad Basyari atau Syekh Musa, pendiri Pondok Pesantren Al-Basyariyah, Sukanegara, Cianjur, Jawa Barat. Ulama tasawuf yang pertama kali membuat dan mengibarkan Bendera Merah-Putih. (Istimewa)
Cikal Bakal Sang Saka Merah Putih

Pada 1939, Syekh Musa memesan kain atau bendera dengan paduan warna merah dan putih kepada Haji Harun Hasan, seorang pengusaha kain dari Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah bendera jadi dibuat, pada tahun 1942—atau tiga tahun sebelum Bangsa Indonesia merdeka—untuk pertama kalinya bendera itu dikibarkan di Pesantren Al-Basyariyah Sukanegara, langsung di hadapan Sukarno dan para santri.

Sang Saka Merah Putih asli itu suatu kali pernah hendak dirampas oleh serdadu Belanda. Namun, ketika para serdadu Kompeni tiba di Pesantren, Syekh Musa mengumandangkan azan di empat penjuru pondok. Serdadu Belanda pun takut dan urung merampasnya.

Selama zaman penjajahan Jepang, setiap shalat Jumat, Sang saka Merah Putih dikibarkan di mimbar Pesantren.

Bacaan Lainnya

Rachmat Khadar, salah satu keturunan Syekh Musa, menceritakan bahwa Bendera Pusaka itu masih tersimpan rapi di dalam sebuah kotak kayu jati berukuran 50×40 sentimeter dengan ukiran sederhana di setiap sisinya, di Pesantren Al-Basyariah. Pada salah satu sisi terdapat kunci gembok berukuran sedang.

Saat peti dibuka, tampaklah bendera merah putih yang terlipat dengan kondisi lusuh karena dimakan usia. Saat dibentangkan, warna merah sudah pudar dan warna putih tampak menguning.

Ada robekan kecil di ujung atas dan bawah kain bendera berukuran 3,3×2,1 meter ini. Jika diamati lebih dekat, terdapat tulisan tangan pada tali bendera yang berbunyi, “Memuaskan Hati H. Haroon Hasan”. Makna tulisan itu adalah, Haji Haroon—atau Haji Harun dalam ejaan lama—merasa senang dan bangga bisa membuatkan bendera yang dipesan oleh Syekh Musa.

Kondisi bendera pusaka yang tersimpan di Pondok Pesantren Al Basyariyah, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sang saka merah putih ini dibuat tahun 1939.(Dok. KOMPAS)

Menurut Rachmat, keberadaan bendera pusaka tersebut tidak terlepas dari sosok Sukarno yang sering mengunjungi pesantren.

Sukarno, kata Rachmat, pertama kali berkunjung ke Pesantren Al-Basyariyah pada tahun 1930.

“Beliau kadang ke sini sendiri, hanya ditemani ajudannya. Kadang tiga hari, seminggu, sepuluh hari, lalu pulang, dan beberapa hari kemudian datang lagi,” kata Rachmat, sebagaimana dilansir Kompas.com, Kamis, 13 Agustus 2020.

“Kemudian, dalam suatu kesempatan di tahun 1939, Mbah (Syekh Musa) memesan kain atau bendera dengan paduan warna merah dan putih kepada Haji Harun Hasan, seorang pengusaha kain di Pekalongan,” imbuh Rachmat.

Setelah bendera jadi dibuat, pada tahun 1942 atau tiga tahun sebelum Bangsa Indonesia merdeka, bendera itu dikibarkan di lingkungan pesantren di hadapan Sukarno dan para santri. Bendera merah-putih pertama yang dikibarkan di Indonesia.

Setelah dikibarkan, Syekh Musa meminta Sukarno membawa bendera tersebut ke Istana di Jakarta untuk dicarikan kain berwarna serupa dari China atau Jepang, yang saat itu kualitasnya paling bagus.

“Setelah dapat, kain merah dan putih itu kemudian dijahit ibu Fatmawati untuk dijadikan bendera. Menjahitnya sendiri pernah dilakukan di sini, di pesantren ini,” ujar dia.

Pos terkait