Ibadah haji bagi Soekarno bukan sekadar gelar, namun nyala api kemanusiaan guna membebaskan umat dari belenggu penindasan duniawi.
Angin kering berembus di Padang Arafah pada tahun 1955. Di tengah lautan manusia yang memutih, berdirilah Soekarno, Sang Proklamator Indonesia, yang melepaskan seluruh atribut kebesarannya dan membaur bersama jutaan umat manusia. Baginya, momen spiritual ini bukan sekadar pencapaian individual, melainkan puncak kontemplasi dari pemikirannya yang panjang tentang makna sejati sebuah agama.
Jauh sebelum kakinya menginjak Tanah Suci, Soekarno telah lama memendam kegelisahan yang mendalam terhadap cara sebagian masyarakat Indonesia mempraktikkan agama, khususnya ibadah haji. Ia melihat adanya jurang yang menganga antara pesan langit yang suci dan realitas umat yang masih terjebak dalam formalitas yang kaku.
Melalui tulisan dan pidatonya, Bung Karno melontarkan kritik-kritik pedas sekaligus merumuskan filosofi haji yang menggugah nurani.
Di Bawah Terik Arafah: Menanam Rindang Kemanusiaan (1955)
Konteks paling nyata dari praktik filosofi haji Soekarno terjadi pada musim haji tahun 1955. Perjalanan ini bukan sekadar misi spiritual pribadi, tetapi juga langkah diplomasi untuk merekatkan ukhuwah (persaudaraan) Islam global. Saat berada di Arafah yang gersang dan terik, Soekarno tidak hanya menundukkan kepala untuk berdoa, namun ia melahirkan sebuah inisiatif nyata: mengusulkan penanaman pohon kepada Raja Arab Saudi untuk memberikan peneduh bagi para jemaah.
Pohon-pohon itu tumbuh subur hingga kini dan abadi dikenang sebagai Pohon Soekarno (pohon Mimba).
Hal ini merepresentasikan filosofinya: ibadah harus membawa manfaat konkret bagi sesama manusia (Rahmatan lil ‘Alamin). Baginya, haji yang mabrur adalah haji yang sepulangnya dari Tanah Suci mampu memberikan keteduhan, perlindungan, dan kesejahteraan bagi rakyat yang sengsara.
Kritik Tajam “Islam Sontoloyo”: Berhenti Memuja Abu
Jauh sebelum keberangkatannya ke Tanah Suci, kritik tajam Soekarno tentang praktik keagamaan yang kering dari nilai kemanusiaan tertuang dalam tulisan-tulisannya pada dekade 1930-an hingga 1940-an, yang paling terkenal terangkum dalam gagasan “Islam Sontoloyo” (dipublikasikan di Pandji Islam, 1940).





