Wamen Stella Ajak Mahasiswa Baru ITS Berpikir Kritis di Era Serba AI

Wamen Stella
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD. (Humas ITS)

Wamen Diktisaintek Stella Christie mengajak mahasiswa baru ITS untuk berpikir kritis menyikapi perkembangan AI demi menjaga keberlanjutan sumber daya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof Stella Christie PhD ajak para mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk berpikir kritis di tengah euforia teknologi akal imitasi (AI) era ini. Pemaparan tersebut disampaikannya di hadapan ribuan peserta Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026.

Stella mengajak mahasiswa untuk bisa menelaah fenomena AI melalui sudut pandang keberlanjutan. Ia mengibaratkan perkembangan AI dengan fenomena economic bubble yang pernah terjadi pada perdagangan tulip di Belanda dan gelembung dot-com (dot-com bubble) pada akhir abad ke-19.

Menurutnya, euforia terhadap satu teknologi perlu disikapi secara kritis agar masyarakat tidak terjebak pada optimisme berlebihan. “Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu,” terang perempuan berkacamata ini, seperti dikutip Jumat (7/8/2026).

Bacaan Lainnya

Profesor dari Tsinghua University, China tersebut menegaskan bahwa analisis tersebut bukan untuk meremehkan AI, melainkan mengajak mahasiswa berpikir lebih mendalam mengenai dampaknya. Terlebih, ia menyoroti besarnya sumber daya yang dibutuhkan AI, namun tidak diketahui oleh banyak orang.

“Pusat data AI memerlukan listrik dan air dalam jumlah sangat besar untuk menjalankan proses komputasi yang juga diperkirakan terus meningkat,” papar Stella.

Lebih lanjut, Stella memaparkan fakta bahwa kebutuhan energi dan air untuk menopang pusat data AI itu setara dengan penggunaan di negara-negara besar. Kondisi tersebut dinilainya harus menjadi pertimbangan sebelum masyarakat memanfaatkan AI secara masif. “Untuk itu, saya mengingatkan bahwa kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan,” tutur Stella mengingatkan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan