Soekarno dengan getir mengkritik masyarakat yang terjebak pada formalitas agama semata. Dalam konteks haji, ia menyoroti fenomena sosial di mana ibadah sering kali direduksi menjadi komoditas untuk mendongkrak status sosial. Beberapa pokok kritik Soekarno meliputi:
- Memburu Gelar, Mengabaikan Sekitar: Ia mengkritik keras orang-orang yang rela menumpuk kekayaan untuk pergi haji berkali-kali demi gelar kebanggaan dan kehormatan di masyarakat, sementara tetangga mereka mati kelaparan dan rakyat miskin terus tertindas oleh kolonialisme.
- Gagal Menangkap “Api” Islam: Menurut Bung Karno, umat Islam terlalu sering memuja “abu” (ritual lahiriah, budaya kearab-araban, dan jubah kebesaran) namun gagal menangkap “api” Islam—yakni semangat perlawanan terhadap ketidakadilan, kebodohan, dan imperialisme.
- Simbol Tanpa Nyawa: Memakai sorban dan gelar Haji tidak ada artinya jika jiwa seseorang masih bermental budak dan tidak memiliki Peri Kemanusiaan. Agama, menurutnya, jangan hanya menjadi penghias bibir, tetapi harus menjadi daya dobrak moral untuk membangun kesejahteraan sosial.
Filosofi Pembebasan: Kesetaraan di Balik Kain Ihram
Bagi Soekarno, pakaian ihram adalah wujud nyata dari filsafat kesetaraan absolut. Dua lembar kain putih tanpa jahitan meruntuhkan seluruh sekat feodalisme yang sangat ia benci. Tidak ada lagi Presiden, jenderal, priyayi, maupun petani miskin. Semuanya setara di hadapan Tuhan.
Filosofi haji Soekarno berakar erat pada sila Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila. Ia percaya bahwa kepatuhan kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari cinta kepada kemanusiaan. Haji adalah proses pembebasan diri dari kesombongan ego, harta, dan takhta. Ia adalah ikrar revolusioner untuk kembali ke tanah air bukan sebagai elit sosial yang minta dihormati, melainkan sebagai pelayan rakyat yang siap berkorban demi membebaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan.
Langkah Soekarno di Arafah, serta tegurannya yang keras dari masa pengasingannya, terus bergema sebagai tamparan yang menyentuh nurani kita hingga hari ini. Di tengah zaman di mana ibadah sering kali diukur dengan kalkulasi materi dan dipamerkan di panggung digital, kritik sang Proklamator mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang ngilu namun mencerahkan: gelar suci tidak pernah berada di atas nama di KTP, melainkan tertanam pada seberapa banyak kita bersedia membungkuk untuk mengangkat derajat kemanusiaan yang sedang jatuh. Mari mencari apinya, dan biarkan abunya beterbangan ditiup angin. ***





