Klaim Hajar Aswad tak tenggelam di air sudah lama diperdebatkan. Hipotesis kaca impaksit dari Kawah Wabar menawarkan jawaban paling memikat, tetapi belum pernah diuji langsung.
Sebuah riwayat lama menyebut Hajar Aswad tidak tenggelam ketika diletakkan di atas air. Klaim itu beredar berabad-abad di kalangan jemaah, tetapi belum pernah satu pun diuji di laboratorium karena otoritas Arab Saudi tidak mengizinkan akses fisik untuk pengujian destruktif maupun non-destruktif tingkat lanjut.
Justru di celah itulah ilmu kebumian masuk. Sejak awal abad ke-20, geolog dan ahli meteorit mencoba menjawab pertanyaan yang berbeda namun bertaut: dari material apa sebenarnya batu suci di sudut tenggara Kakbah itu terbuat? Dan dari mana ia berasal sebelum tertanam di sana?
Hingga kini, ada empat hipotesis utama yang berlaga.
Penemuan Philby dan Jejak Meteorit di Rub al-Khali
Cerita modern soal Hajar Aswad bermula pada 1932, ketika penjelajah Inggris Harry St John Philby menemukan sebuah kompleks kawah di gurun Rub al-Khali, Arab Saudi. Penduduk Badui setempat menyebut lokasi itu Al-Hadidah — “tempat besi” — karena di sana sering ditemukan pecahan logam yang kelak teridentifikasi sebagai meteorit.
Lokasi ini kini dikenal sebagai Kawah Wabar. Survei mutakhir mencatat bahwa Wabar bukan satu kawah tunggal, melainkan kompleks tiga kawah dengan diameter masing-masing sekitar 11 m, 64 m, dan 116 m. Di sekitarnya tersebar material kaca hitam vesikular dan pasir terlitifikasi akibat tekanan tumbukan.
Hipotesis Thomsen: Kaca Impaksit, Bukan Meteorit Logam
Hipotesis paling banyak dirujuk berasal dari Elsebeth Thomsen, peneliti Universitas Kopenhagen.
Dalam makalahnya di jurnal Meteoritics tahun 1980, Thomsen mengusulkan bahwa Hajar Aswad bukan meteorit logam, melainkan kaca impaksit (impactite glass). Yaitu material yang terbentuk seketika saat panas dan tekanan ekstrem dari tumbukan meteorit melelehkan pasir silika.
Logikanya konsisten dengan tiga ciri Hajar Aswad yang sering dilaporkan, yaitu:
Warna hitam. Thomsen menulis bahwa warna gelap itu berasal dari butir-butir besi-nikel halus dari awan ledakan tumbukan, bukan dari “oksidasi di luar angkasa” seperti yang kerap dikira. Kerak hitam khas meteorit (fusion crust) sendiri terbentuk akibat panas saat material melewati atmosfer Bumi, bukan di ruang hampa.
Bercak putih. Sisa-sisa pasir silika atau kaca putih dari proses tumbukan masih terlihat sebagai titik-titik terang di sela permukaan batu.
Mengapung di air. Kaca impaksit bersifat vesikular — penuh rongga gas mikroskopis hasil ledakan termal. Densitas keseluruhannya bisa lebih rendah daripada air. Ciri ini sekaligus menjadi jawaban untuk klaim klasik bahwa Hajar Aswad tidak tenggelam — dan mementahkan keberatan utama terhadap hipotesis meteorit logam, yang seharusnya berdensitas jauh di atas air.
Bantahan: Bukan Meteorit, Mungkin Agat
Tidak semua peneliti setuju. Pada 1974, geolog Robert S. Dietz dan John McHone menerbitkan bantahan singkat di Meteoritics berjudul Kaaba Stone: Not a Meteorite, Probably an Agate.
Mereka berargumen, pola visual batu — termasuk diffusion banding yang dilaporkan teramati oleh seorang geolog Arab saat berhaji — lebih konsisten dengan agat (batu akik), bukan kaca tumbukan.
Polesan tinggi di permukaan Hajar Aswad, menurut Dietz dan McHone, juga lebih lazim untuk agat daripada untuk impaktit yang biasanya kasar dan berongga.
Hipotesis Obsidian dan Keterbatasannya
Hipotesis ketiga menyebut Hajar Aswad sebagai obsidian, kaca alam yang terbentuk dari pendinginan lava cepat. Pesisir barat Semenanjung Arab memang dipenuhi harrat — medan vulkanik luas — sehingga sumber obsidian dalam jangkauan kafilah kuno bukan hal mustahil.
Hanya saja, obsidian umumnya tenggelam di air karena densitasnya sekitar 2,4 g/cm³, dan tidak menampilkan bercak putih khas seperti yang terlihat pada Hajar Aswad.
Hipotesis ini karena itu kalah pamor dibanding kaca impaksit.
Foto Resolusi Tinggi 2021: Delapan Fragmen, Bukan Satu Batu
Salah satu sumbangan paling konkret bagi kajian visual Hajar Aswad datang pada Mei 2021. General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques merilis dokumentasi makro batu suci itu menggunakan teknik Focus Stack Panorama: 1.050 foto digabung menjadi satu citra beresolusi 49.000 megapiksel, dengan total waktu pemotretan tujuh jam dan pengolahan lebih dari 50 jam.
Citra itu memperlihatkan bahwa Hajar Aswad saat ini bukan satu bongkahan utuh, melainkan kumpulan sekitar delapan fragmen yang disatukan dalam bingkai perak murni di sudut tenggara Kakbah, sekitar 1,5 m di atas lantai. Bingkai perak inilah yang berdiameter sekitar 30 sentimeter — sering keliru dianggap sebagai diameter batunya.
Catatan Penanggalan: Hipotesis Thomsen Kini Diuji Ulang
Perlu satu catatan penting yang sering luput. Saat menulis pada 1980, Thomsen menduga peristiwa tumbukan Wabar terjadi sekitar 6.000 tahun lalu, dan kafilah kuno membawa pecahan kaca impaksit melintasi semenanjung hingga akhirnya berlabuh di Mekah.
Dugaan itu kini sedang ditinjau ulang. Studi penanggalan termoluminesensi oleh Prescott dkk. yang terbit di Journal of Geophysical Research: Planets (2004) menyimpulkan kawah Wabar kemungkinan jauh lebih muda — sekitar 290 ± 38 tahun. Temuan ini diperkuat survei geofisika 2021 yang juga menempatkan usia kawah di bawah 300 tahun.
Konsekuensinya: jika usia Wabar memang hanya beberapa ratus tahun, skenario “kafilah kuno membawa pecahan Wabar ke Mekah” menjadi kronologis tak mungkin — sebab Hajar Aswad sudah tertanam di Kakbah jauh sebelum tumbukan Wabar terjadi.
Hipotesis kaca impaksit Thomsen tidak otomatis runtuh, tetapi sumber kawahnya harus dicari di lokasi lain.
Status Ilmiah Saat Ini
Empat hipotesis itu — meteorit logam, kaca impaksit, agat, dan obsidian — masih berstatus dugaan ilmiah berbasis analogi material, bukan kesimpulan terverifikasi. Tidak ada satu pun di antaranya yang pernah dikonfirmasi melalui pengujian langsung pada Hajar Aswad.
Akses fisik ke batu itu dijaga ketat oleh otoritas Dua Masjid Suci, dan tidak ada indikasi kebijakan tersebut akan berubah dalam waktu dekat.
Selama itu pula, sains hanya bisa bekerja dari jarak, melalui foto resolusi tinggi, sampel batuan dari Wabar dan ladang vulkanik Hijaz, serta perbandingan literatur. Misteri Hajar Aswad, untuk sementara waktu, tetap menjadi misteri.***
Daftar Pustaka
- Dietz, R. S., & McHone, J. (1974). Kaaba Stone: Not a Meteorite, Probably an Agate. Meteoritics, 9(2), 173–179.
- Gnos, E., dkk. (2013). The Wabar impact craters, Saudi Arabia, revisited. Meteoritics & Planetary Science, 48(10).
- Hanafy, S., dkk. (2021). Comprehensive Geophysical Study at Wabar Crater, Rub Al-Khali Desert, Saudi Arabia. Earth and Space Science, 8(10).
- Prescott, J. R., Robertson, G. B., Shoemaker, C., Shoemaker, E. M., & Wynn, J. (2004). Luminescence dating of the Wabar meteorite craters, Saudi Arabia. Journal of Geophysical Research: Planets, 109(E1).
- Thomsen, E. (1980). New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba. Meteoritics, 15(1), 87–91.
- General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques. (3 Mei 2021). Rilis dokumentasi Focus Stack Panorama Hajar Aswad. Diberitakan al.: CNN, Arab News, Saudi Gazette.





