Mengapa Soekarno Memilih Boedi Oetomo?

Foto dokumentasi peringatan Hari Kebangunan Nasional (kini Hari Kebankitan Nasional) ke-40 pada 20 Mei 1948 di Istana Agung Yogyakarta. - X @ArsipNasionalRI
Boedi Oetomo diperdebatkan sebagai tonggak kebangkitan. Namun, Soekarno memilih 20 Mei sebagai simbol persatuan saat Republik terancam pecah.

Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei tidak lahir semata-mata dari romantisme sejarah Boedi Oetomo. Di balik tanggal itu, ada keputusan politik, perdebatan historiografi, dan kebutuhan mendesak untuk merawat persatuan Republik yang masih muda.

Pemerintah kemudian menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tentang hari-hari nasional yang bukan hari libur. Dalam daftar tersebut, Harkitnas dicantumkan berdampingan dengan Hari Pendidikan Nasional, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan Hari Ibu.

Namun, jauh sebelum dasar hukum itu terbit, Soekarno telah memakai 20 Mei sebagai momentum politik. Pada 1948, ketika Republik Indonesia berada di bawah tekanan Belanda dan pertentangan politik dalam negeri, peringatan Hari Kebangunan Nasional digelar sebagai ikhtiar menyatukan kekuatan bangsa.

Bacaan Lainnya
Republik yang Butuh Simbol

Tahun 1948 bukan masa yang tenang. Setelah Agresi Militer Belanda pada 1947, Republik menghadapi tekanan dari luar. Pada saat yang sama, ketegangan politik antara kelompok kiri dan kanan membuat ruang persatuan di dalam negeri ikut retak.

Dalam situasi itu, Soekarno membutuhkan simbol yang bisa melampaui garis partai, organisasi, dan kepentingan politik. Sejumlah rujukan menyebut, ia menugaskan Ki Hajar Dewantara untuk menyiapkan peringatan yang saat itu masih disebut Hari Kebangunan Nasional.

Pilihan jatuh pada 20 Mei, hari lahir Boedi Oetomo pada 1908. Gedung STOVIA di Batavia, tempat organisasi itu berdiri, kemudian dikenang sebagai salah satu ruang penting lahirnya kesadaran nasional. Buku panduan Museum Kebangkitan Nasional mencatat gedung STOVIA sebagai tempat berkembangnya kesadaran sebagai satu bangsa dan lokasi berdirinya Boedi Oetomo.

Dengan demikian, 20 Mei bukan hanya dipakai untuk mengenang organisasi. Ia dijadikan titik temu simbolik: dari pendidikan, kesadaran bumiputra, hingga gagasan bangsa yang perlahan tumbuh dalam ruang penjajahan Hindia Belanda.

Boedi Oetomo dan Perdebatan yang Tak Selesai

Pemilihan Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan nasional tidak pernah bebas dari kritik. Sebagian sejarawan menilai organisasi ini belum sepenuhnya mewakili gagasan kebangsaan Indonesia dalam arti politik modern.

Pos terkait