Fadli Zon Janjikan Buku Sejarah Terbit Agustus

11 jilid buku "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global". - Tangkapan Layar Youtube @KEMENBUD
Buku sejarah Indonesia terbaru yang sempat molor dijanjikan bisa diakses publik mulai Agustus 2026.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memastikan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global akan bisa diakses publik mulai Agustus 2026, setelah jadwal sebelumnya sempat bergeser dari target awal.

Kepastian itu disampaikan Fadli usai menunaikan salat Iduladha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026. Buku tersebut disebut sudah selesai secara substansi, tetapi masih menjalani penyuntingan perwajahan dan desain.

Bacaan Lainnya

“Sudah terbit sebenarnya, tapi sedang kita edit dengan perwajahannya, desain bukunya. Insyaallah nanti bulan Agustus ini,” kata Fadli, Rabu, 27 Mei 2026.

Ketika ditanya kembali soal akses untuk masyarakat umum, Fadli menegaskan buku itu akan dibuka untuk publik pada bulan yang sama. “Iya, diakses oleh publik Agustus,” ujarnya.

Target Rilis Sempat Bergeser

Sebelumnya, Fadli pernah menargetkan buku tersebut bisa diakses publik pada akhir April. ANTARA melaporkan, pada 2 April 2026, Fadli menyebut substansi buku sudah selesai dan tinggal menjalani revisi akhir serta penyesuaian tata letak.

Buku itu telah diluncurkan secara terbatas oleh Kementerian Kebudayaan di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, pada 14 Desember 2025. Dalam laporan peluncuran, karya tersebut disebut terdiri atas 10 jilid utama serta satu jilid prakata dan daftar pustaka.

Penulisannya melibatkan 123 sejarawan dan ahli dari 34 perguruan tinggi di Indonesia. Proyek ini disebut merangkum perjalanan panjang Indonesia, dari akar peradaban Nusantara hingga dinamika kebangsaan sampai 2024.

Polemik Dianggap Wajar

Fadli mengakui penyusunan buku sejarah baru itu sempat memicu polemik. Sebagian kalangan bahkan meminta proyek penulisan ulang sejarah dihentikan. Namun, ia menyebut perbedaan pandangan sebagai bagian wajar dari demokrasi.

“Sempat ada polemik untuk menghentikan penulis sejarah. Tapi itu wajar,” kata Fadli, dikutip dari sambutannya di kanal YouTube Kementerian Kebudayaan.

Ia menegaskan buku tersebut bukan ditulis oleh dirinya, melainkan oleh para ahli sejarah. “Jadi ini ditulis oleh ahlinya, sejarawan Indonesia. 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi Indonesia. Jadi ini bukan ditulis oleh saya,” ujar Fadli.

Pos terkait