Jejak Dr. Soetomo dapat dijumpai di Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang terdapat di kawasan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur
Nama Dr. Soetomo dikenal luas sebagai pendiri organisasi Boedi Oetomo, yang akhirnya jadi pelopor Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Sebagai seorang tenaga medis, Dr. Soetomo juga dikenal rame ing gawe sepi ing pamrih (banyak bekerja minim apresiasi) karena tak pernah menarik tarif periksa pada pasiennya kala itu.
Jejak perjuangan Dr. Soetomo dapat dijumpai di Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang terdapat di kawasan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur. Di kompleks GNI, tepatnya di belakang gedung, akan dijumpai Museum Dr. Soetomo. Museum ini diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 29 November 2017 silam.
Gedung dua lantai ini menyimpan barang-barang pribadi peninggalan Dr. Soetomo. Dari koleksi semasa menjadi dokter di Rumah Sakit CBZ (Central Burgelijke Ziekeninrichting) yang lalu berubah nama menjadi Rumah Sakit Simpang (saat ini sudah menjadi gedung Plaza Surabaya), cerita mengenai perjuangan Dr. Soetomo semasa hidup, hingga pernikahannya dengan perempuan Belanda, Everdina J. Broering.
Koleksi Barang Pribadi
Di lantai satu dapat dijumpai tulisan-tulisan yang mengisahkan tentang perjuangan Dr. Soetomo bersama organisasinya, serta perjalanan pendidikannya. Sedangkan di lantai dua berisi tentang koleksi barang-barang pribadinya, seperti tempat praktiknya di Rumah Sakit Simpang, kisah tentang keluarga beliau, termasuk pernikahannya dengan perempuan berkebangsaan Belanda.
Museum itu menempati eks gedung Bank Nasional Indonesia, yang dibangun di tahun 1930. Letaknya berada di belakang bangunan utama (pendopo) GNI.
Dr. Soetomo adalah tokoh pendiri Boedi Utomo, organisasi pergerakan kemerdekaan pertama di Indonesia. Pada tahun 1903, ia menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Bersama teman-teman dari STOVIA inilah, pria yang terlahir dengan nama Soebroto ini mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908.





