Mursyid Shiddiqiyyah: Jangan Pertanyakan Pilihan Allah

Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menyampaikan mauizah hasanah dalam acara TTBH di Purwodadi, Minggu (12/7/2026). (Dok. OPSHIDMEDIA)

Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi mengajak umat mencari hikmah di balik setiap ketetapan Allah, termasuk terpilihnya Grobogan sebagai tuan rumah Tasyakuran Tahun Baru Hijriah 1448 Hijriah.

Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi mengingatkan bahwa manusia tidak semestinya mempertanyakan pilihan Allah. Menurutnya, setiap ketetapan-Nya selalu mengandung hikmah yang lebih besar daripada yang mampu dipahami manusia.

Pesan itu disampaikan dalam mauizah hasanah pada Silaturahmi dan Tasyakuran Tahun Baru Hijriah (TTBH) ke-24 tahun 1448 Hijriah di Gedung Serbaguna Dewi Sri, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Minggu, 12 Juli 2026.

Ia mengawali ceramah dengan mengutip Surah Al-Qashash ayat 68 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan sekaligus memilih segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.

Bacaan Lainnya

“Pilihan Allah lebih bermanfaat, lebih utama, dan lebih besar daripada pilihan kehendak manusia,” kata Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Menurut dia, prinsip tersebut juga berlaku dalam penetapan Grobogan sebagai tuan rumah TTBH tahun ini. Alih-alih mempertanyakan mengapa kegiatan digelar di daerah tersebut, umat diajak mencari hikmah yang tersembunyi di balik pilihan itu.

Hikmah di Balik Grobogan dan Bengkulu

Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi kemudian mengungkap keterkaitan sejarah yang mempertemukan Grobogan dengan Bengkulu, lokasi penyelenggaraan TTBH sebelumnya.

Ia menjelaskan ayah Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yakni Raden Soekemi Sosrodihardjo, berasal dari Wirosari, Kabupaten Grobogan. Sementara itu, Fatmawati berasal dari Bengkulu dan dikenang sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi Kemerdekaan.

Baginya, rangkaian sejarah tersebut menjadi hikmah yang mempertemukan dua daerah dalam perjalanan Tasyakuran Tahun Baru Hijriah Shiddiqiyyah.

“Jadi semua ini tersambung antara Bengkulu dengan Purwodadi. Inilah hikmahnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jasa Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan serta peran Fatmawati sebagai Ibu Negara pertama yang turut mengukir sejarah perjuangan bangsa.

“Kemudian Soekarno dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator. Ibu Fatmawati, Ibu Negara pertama, dijuluki pahlawan pergerakan Indonesia. Ini ibu pahlawan sejati, Ibu Fatmawati,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan