Di tengah riuh kesalehan simbolik yang kerap memadati ruang publik Indonesia, pertanyaan mendasarnya sederhana namun mengusik: apakah ibadah kita sungguh melahirkan kemanfaatan, atau sekadar berhenti di sajadah?
Fenomena kesalehan personal yang terpisah dari kepekaan sosial bukanlah gejala baru. Di banyak ruang, intensitas ritual sering kali berjalan sendiri, sementara problem kemanusiaan tetap menunggu sentuhan.
Dikotomi ini, pada titik tertentu, menjelma menjadi kegagalan strategis dalam beragama—agama yang kehilangan daya ubahnya karena terkungkung dalam ruang hampa.
“Ibadah tanpa kepedulian itu tak berbuah,” tegas Al-Halats Muhidin, warga Thoriqoh—yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut “tarekat”—Shiddiqiyyah, dikutip Kamis (19/2/2026). Baginya, dan juga bagi warga Shiddiqiyyah pada umumnya, rajin berzikir tanpa menyapa penderitaan sesama hanya akan melahirkan rutinitas, bukan transformasi.
“Rajin ibadah tapi kita tidak peduli kepada sesama, maka ibadah itu tidak ada buahnya,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memuat tesis teologis yang tajam: spiritualitas sejati menuntut konsekuensi sosial. Ketajaman batin harus selaras dengan gerak lahir. Jika tidak, iman kehilangan relevansinya di hadapan realitas.
Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan
Di dalam lanskap Thoriqoh Shiddiqiyyah, dimensi sosial bukan sekadar pelengkap, melainkan syarat masuk. Delapan Kesanggupan Shiddiqiyyah menjadi prasyarat bagi setiap murid—di antaranya bakti kepada sesama manusia dan cinta tanah air. Spiritualitas tidak ditempatkan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai metode mendekatkan diri kepada Allah melalui kemanfaatan nyata.
Ketua Umum Dhilal Berkat Rochmat Allah atau DHIBRA Pusat—sebuah lembaga filantropi Shiddiqiyyah—, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, dalam keterangannya yang dikutip OPSHID Media pada Juli 2025, menegaskan bahwa tarekat ini tidak berhenti pada wirid. Ia meluruskan anggapan yang menyederhanakan tarekat sebagai ruang eksklusif kesalehan personal.





