Ajaran Shiddiqiyyah berakar pada sikap membenarkan kebenaran Nabi sejak Isro’ Mi’roj hingga berkembang di Nusantara.
Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari satu sikap dasar yang mengakar kuat dalam peristiwa besar kenabian: keberanian membenarkan kebenaran, bahkan ketika akal dan logika publik menolaknya.
Dalam khazanah tasawuf Islam, Shiddiqiyyah dikenal sebagai aliran spiritual yang menautkan dimensi iman, kejujuran, dan keberpihakan pada nilai kebenaran sejak masa awal Islam.
Dari Ujian Iman Isro’ Mi’roj
Akar Shiddiqiyyah merujuk pada peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Setelah Rasulullah menyampaikan pengalaman spiritualnya—perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik hingga Sidratul Muntaha—reaksi umat terbelah.
Sebagian semakin yakin. Sebagian ragu. Sebagian lain memilih pergi.
Di tengah keguncangan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri tanpa ragu. Ia membenarkan peristiwa tersebut sepenuhnya. Dari sikap inilah lahir gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang senantiasa membenarkan kebenaran.
Sikap inilah yang kemudian melahirkan sebutan golongan Shiddiq—mereka yang meneguhkan iman tanpa syarat. Dalam tradisi tasawuf, garis spiritual ini kemudian dikenal sebagai Shiddiqiyyah.
Masa Keemasan di Timur Tengah
Estafet ajaran Shiddiqiyyah berlanjut lintas generasi hingga mencapai masa kepemimpinan Syekh Abu Yazid Al-Busthomi atau Thoifur bin ‘Isa.
Menurut penjelasan Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, periode kepemimpinan Abu Yazid menjadi masa keemasan Shiddiqiyyah.
Ajaran ini berkembang kuat di Busthom, Iran, wilayah asal Abu Yazid, serta Irbil, Irak, yang menjadi pusat pengaruh dan pengikutnya. Pada fase ini, Shiddiqiyyah berperan sebagai fondasi spiritual masyarakat, menanamkan tauhid, kejujuran batin, dan keteguhan iman.
Nama yang Berubah, Ajaran yang Bertahan
Seiring wafatnya Abu Yazid pada 874 M, Shiddiqiyyah mengalami perubahan penamaan. Ulama Irbil Syekh Amin Al-Qurdi mencatat dalam kitab Tanwīrul Qulūb fī Mu‘āmalati ‘Ulūmil Ghuyūb bahwa perubahan nama thoriqoh mengikuti nama mursyid di setiap zaman.
Nama Shiddiqiyyah kemudian bertransformasi menjadi Thoifuriyyah, Khuwajikaniyyah, hingga Naqsyabandiyyah. Perubahan administratif berabad-abad inilah yang membuat sebutan Shiddiqiyyah perlahan menghilang dari ruang publik, meski ajarannya tetap hidup.






2 Komentar
Komentar ditutup.