Di tengah penghormatan yang nyaris sakral terhadap Pancasila, pemikiran Tan Malaka menghadirkan pertanyaan yang lebih gelisah: apakah kemerdekaan politik sudah benar-benar melahirkan keadilan bagi rakyat?
Tan Malaka adalah salah satu tokoh paling paradoks dalam sejarah Indonesia. Namanya tercatat sebagai pahlawan nasional, tetapi pemikirannya jarang memperoleh ruang yang memadai dalam narasi resmi.
Melalui Naar de Republiek Indonesia yang terbit pada 1925, Tan menjadi salah satu tokoh paling awal yang secara terang-terangan mengemukakan konsep Republik Indonesia.
Sejarawan Harry A. Poeze mencatat Tan sebagai sosok penting dalam arus gerakan kiri dan revolusi Indonesia, terutama karena sikapnya yang keras terhadap jalan diplomasi.
Namun Tan bukan hanya aktivis politik. Ia juga pemikir yang berusaha membangun cara pandang baru bagi bangsa yang sedang mencari dirinya sendiri. Upaya itu mencapai puncaknya melalui Madilog, karya yang ia tulis pada 1943.
Dalam Madilog, Tan mengajak masyarakat meninggalkan cara berpikir yang menurutnya dibebani takhayul, feodalisme, dan pola pikir yang tidak kritis. Ia percaya kemerdekaan politik tidak berarti tanpa kemerdekaan berpikir.
Di titik inilah muncul pertanyaan menarik: bagaimana pemikiran Tan Malaka jika dibaca berdampingan dengan Pancasila?
Jawabannya tidak sederhana. Tan tidak pernah menyusun kritik sistematis terhadap Pancasila sebagaimana dikenal hari ini. Namun, gagasannya memungkinkan pembacaan kritis terhadap praktik kehidupan berbangsa yang mengatasnamakan Pancasila.
Bagi Tan, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada penggantian penguasa. Ia harus menjangkau struktur ekonomi dan sosial yang menentukan kehidupan rakyat sehari-hari.
Karena itu, ia curiga terhadap kompromi politik yang hanya mempertahankan ketimpangan lama dengan wajah baru. Dalam konteks inilah gagasan kemerdekaan penuh menemukan daya gugatnya.
Membaca Tan Malaka tidak harus berarti menolak Pancasila. Justru sebaliknya. Pemikiran Tan dapat menjadi pengingat bahwa setiap ideologi negara membutuhkan kritik agar tetap hidup.





