Tan Malaka dan Pertanyaan tentang Pancasila

Ilustrasi Tan Malaka sebagai pemikir republik yang terus menggugat kemerdekaan, ideologi, dan keberanian bangsa menguji dirinya.

Sebuah ideologi yang tidak pernah dipertanyakan berisiko berubah menjadi simbol kosong. Ia hadir dalam upacara, pidato, dan dinding kantor, tetapi kehilangan tenaga untuk mengubah kehidupan rakyat.

Warisan terbesar Tan mungkin bukan jawaban-jawabannya, melainkan keberaniannya mengajukan pertanyaan. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan peristiwa yang selesai pada 17 Agustus 1945, melainkan proses panjang dalam politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Lebih dari tujuh dekade setelah kematiannya, suara Tan masih bergema dalam perdebatan tentang arah bangsa. Bukan karena semua gagasannya harus diterima, melainkan karena ia mengajarkan satu hal: bangsa hanya tumbuh bila berani menguji dirinya sendiri secara jujur.***

Bacaan Lainnya

Daftar Rujukan
  1. Tan Malaka. Naar de Republiek Indonesia. 1925.
  2. Tan Malaka. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. 1943.
  3. Harry A. Poeze. Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, 2007.
  4. Keputusan Presiden RI Nomor 53 Tahun 1963 tentang Penetapan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.
  5. Tan Malaka. Gerpolek: Gerilya, Politik, dan Ekonomi. 1948.

Pos terkait