Boedi Oetomo memiliki usia yang lebih panjang dalam memori pergerakan. Ia juga berangkat dari dunia pendidikan, bukan partai politik. Dalam konteks 1948, ketika Republik sedang terbelah, simbol semacam itu lebih mudah dipakai untuk menjahit persatuan.
Hatta Memberi Jalan Tengah
Mohammad Hatta memberi perspektif yang lebih seimbang. Dalam tulisannya di Star Weekly pada 17 Mei 1958, Hatta mengakui Boedi Oetomo belum memenuhi syarat sebagai pergerakan nasional bila diukur dengan kacamata politik modern.
Namun, Hatta melihat Boedi Oetomo tetap penting karena menanam “kecambah semangat nasional”. Organisasi itu mungkin belum menjadi gelombang besar, tetapi ia membuka jalan bagi lahirnya organisasi lain yang lebih luas dan lebih politis, seperti Sarekat Islam dan Indische Partij.
Cara pandang Mohammad Hatta ini menjembatani perdebatan. Boedi Oetomo tidak harus dipahami sebagai organisasi yang langsung lengkap secara nasional. Ia bisa dibaca sebagai penanda awal perubahan cara bergerak: dari perlawanan lokal dan bersenjata menuju organisasi modern, pendidikan, pers, dan gagasan kebangsaan.
Akar Peringatan di Negeri Belanda
Menariknya, pemaknaan 20 Mei tidak baru muncul setelah Indonesia merdeka. Pada 1918, ketika Boedi Oetomo berusia 10 tahun, Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara ikut menghidupkan peringatan itu di Belanda.
Buku biografi Ki Hajar Dewantara yang diterbitkan Kementerian Pendidikan mencatat ia aktif memimpin pertunjukan kesenian dalam peringatan 10 tahun Boedi Oetomo di Nederland pada 20 Mei 1918. Dalam periode yang sama, Ki Hajar juga bergerak melalui penerbitan dan kantor berita untuk menyebarkan gagasan pergerakan Indonesia di Eropa.
Dengan jejak itu, 20 Mei sudah lebih dulu memperoleh makna simbolik sebelum dipakai Soekarno sebagai peringatan nasional pada 1948. Tanggal itu bergerak dari peringatan organisasi menjadi penanda kesadaran politik yang lebih luas.
Dari Soekarno ke Orde Baru
Setelah resmi masuk daftar hari nasional pada 1959, Hari Kebangkitan Nasional kembali dikelola negara pada masa Orde Baru. Keppres Nomor 1 Tahun 1985 mengatur penyelenggaraan peringatan setiap 20 Mei dengan tujuan menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.





