Boedi Oetomo lahir dari lingkungan terpelajar Jawa. Orientasi awalnya lebih dekat pada pendidikan, kebudayaan, dan kemajuan sosial bumiputra, terutama di Jawa dan Madura. Karena itu, sebagian kritik menilai organisasi ini belum memiliki agenda politik kemerdekaan yang tegas.
Harsja W. Bachtiar termasuk tokoh yang mempertanyakan penempatan Boedi Oetomo sebagai awal pembentukan bangsa. Perdebatan mengenai posisi organisasi itu dalam historiografi nasional dibahas dalam kajian tentang Harsja Bachtiar dan pembentukan bangsa Indonesia.
Kritik serupa muncul dari Pramoedya Ananta Toer. Dalam pembacaan Pramoedya, kebangkitan modern lebih layak dilacak melalui Tirto Adhi Soerjo, pelopor pers bumiputra yang bergerak lebih awal melalui surat kabar dan organisasi. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Tirto Adhi Soerjo sebagai tokoh penting persuratkabaran nasional yang menerbitkan Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Putri Hindia.
Bahkan sebelum Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908, Tirto sudah disebut merintis Sarekat Prijaji pada 1906. Karena itu, bagi sebagian pembaca sejarah, Tirto menawarkan jalur kebangkitan yang lebih langsung menyentuh organisasi, pers, dan kesadaran politik bumiputra.
Mengapa Bukan Indische Partij?
Pilihan lain yang kerap muncul dalam perdebatan adalah Indische Partij. Organisasi yang didirikan Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat pada 1912 ini jauh lebih terang menyuarakan gagasan politik.
Modul sejarah Kementerian Pendidikan mencatat Indische Partij membawa semboyan “Indie los van Holland” dan “Indie voor Indier”. Sikap politiknya disebarluaskan melalui surat kabar De Express, termasuk lewat tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal, Als ik eens Nederlander was.
Secara politik, Indische Partij memang lebih radikal daripada Boedi Oetomo. Namun, justru di situlah letak pilihan Soekarno menjadi menarik. Ia tidak sedang memilih organisasi paling keras melawan Belanda. Ia memilih simbol yang lebih aman untuk dijadikan ruang konsensus nasional.





