Unair Kembangkan Timbangan Pintar Bersuara untuk Bantu Barista Tunanetra di Surabaya

Timbangan pintar Auris
Timbangan Pintar Auris Inovasi Mahasiswa Unair. - Humas Unair

Barista tunanetra kini memiliki alat bantu baru untuk menakar kopi secara presisi.  AURIS, timbangan pintar bersuara karya mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) ini memberikan informasi berat secara real-time melalui suara.

Alat tersebut dikembangkan Tim Rasena Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) melalui program pendanaan Unair SustainAction. Auris dirancang berdasarkan kebutuhan barista tunanetra di Komunitas Mata Hati (KMH) Surabaya, khususnya yang bekerja di UMKM KopiCék. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna mengetahui berat bahan secara real-time melalui umpan balik suara tanpa harus mengandalkan penglihatan.

Perwakilan Tim Rasena, Jessica Rahma Valere Satyo, mengatakan pengembangan Auris bermula dari fokus tim terhadap isu disabilitas yang menjadi salah satu prioritas program SustainAction.

“Setelah berdiskusi dengan KMH, kami mengetahui bahwa mereka lebih membutuhkan timbangan yang dapat mengeluarkan suara untuk membantu barista tunanetra mereka di UMKM KopiCék dalam proses pembuatan kopi. Dari kebutuhan tersebut, kami kemudian mengembangkan AURIS,” kata Jessica, Rabu (19/8/2026).

Bacaan Lainnya

Bekerja dengan Umpan Balik Suara

Mahasiswi Teknik Elektro FTMM angkatan 2024 tersebut menjelaskan, Auris mengubah data berat dari load cell menjadi informasi suara secara real-time.

Pengguna juga dapat memasukkan target berat atau dosing yang diinginkan. Saat kopi dituangkan ke wadah, buzzer akan memberikan tanda suara dan berhenti ketika takaran yang ditentukan tercapai.

Kombinasi audio feedback dan tombol fisik tersebut dirancang agar barista tunanetra dapat menakar kopi secara lebih presisi tanpa bergantung pada penglihatan.

Teknologi ini sekaligus menjawab kebutuhan yang ditemukan Tim Rasena ketika melakukan pemetaan awal bersama komunitas. Sebelumnya, tim berencana mengembangkan tongkat pintar untuk penyandang disabilitas. Namun, hasil diskusi dengan KMH menunjukkan kebutuhan yang lebih mendesak berada pada aktivitas pembuatan kopi.

Diuji hingga Dini Hari

Pengembangan Auris tidak berhenti pada pembuatan perangkat. Tim Rasena melakukan pengujian bersama para barista untuk memastikan alat dapat digunakan secara praktis dalam aktivitas kerja.

Jessica mengatakan tim bahkan melakukan pengujian hingga dini hari di basecamp KMH.

“Kesan yang kami dapatkan sangat positif. Para barista merasa senang dan kagum karena alat ini membantu mereka. Kami bahkan pernah melakukan uji coba dari pukul 19.00 hingga 02.00 dini hari di basecamp KMH untuk memperbaiki berbagai error sebelum sosialisasi,” ujarnya.

Dalam proses pengujian, tim menemukan sejumlah kendala, terutama terkait suara dan tingkat presisi alat. Kendala tersebut sempat menyebabkan jadwal sosialisasi harus ditunda.

Namun, masukan dari para pengguna justru digunakan untuk menyempurnakan desain dan fungsi Auris.

Salah satu penyesuaian dilakukan pada bodi alat yang menggunakan teknologi 3D printing. Desain tersebut dibuat lebih fleksibel sehingga perangkat lebih mudah dibuka ketika membutuhkan proses perbaikan.

Akan Dikembangkan untuk Penyandang Disabilitas Netra

Setelah melalui tahap pengujian dan penyempurnaan, Auris kemudian disosialisasikan secara langsung dalam kegiatan offline di lingkungan kampus Unair.

Pengembangan alat tersebut mendapat dukungan dari ekosistem kampus, mulai dari pendanaan program SDGs Unair hingga dukungan fasilitas ruangan dan administrasi dari FTMM serta Sarpras Unair.

Tim Rasena berencana melanjutkan pengembangan Auris agar penggunaannya tidak hanya terbatas pada komunitas barista tunanetra di Surabaya.

“Kami ingin terus mengembangkan Auris agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi penyandang disabilitas netra dan meningkatkan kemandirian mereka,” kata Jessica.

Tim juga berencana memberikan satu unit Auris kepada Airlangga Inclusive Learning (AIL) Unair untuk pengembangan dan pengujian lebih lanjut.

Pengembangan Auris menunjukkan bahwa inovasi teknologi untuk penyandang disabilitas tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Pemahaman terhadap kebutuhan pengguna justru menjadi titik awal untuk menghasilkan teknologi yang benar-benar dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Bagi barista tunanetra, sebuah timbangan yang dapat “berbicara” bukan sekadar perangkat digital, tetapi alat bantu untuk bekerja lebih mandiri, mengukur takaran dengan lebih presisi, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menjalankan profesinya.***

Pos terkait