KH. Abdul Mu’thi adalah putra KH. Achmad Syuhada. Dia adalah ulama yang sangat peduli kepada agama, kecintaan terhadap tanah air Indonesia, dan kemandirian ekonomi. Dan dia adalah guru ngaji Sukarno kecil.
Tak banyak informasi yang bisa digali dari Kiai Abdul Mu’thi lantaran terbatasnya sumber referensi yang mengulasnya—sebagaimana minimnya sumber-sumber sejarah yang mengulas sepak terjang KH. Achmad Syuhada, ayahnya.
Barangkali hanya ada satu-dua buku yang serius membahas ulama satu ini, salah satunya Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah Fase Pertama: Kelahiran Kembali Nama Thoriqoh Shiddiqiyyah (2015). Dan di buku tersebut, KH. Abdul Mu’thi diceritakan sebagai pengusaha tembakau sukses.
Kiai Mu’thi, menurut buku itu, terkenal sebagai ahli tembakau. Saking ahlinya, dia sampai disebut “dokter tembakau”. Dalam buku digambarkan bahwa, hanya dengan meremas daun tembakau saja, dia bisa tahu pohonnya ditanam menghadap ke arah mana. Dengan mencium bau daunnya, Kiai Mu’thi tahu tanah tempatnya menanam pernah dipakai untuk menanam apa sebelumnya.
Dengan mencium bau daun tembakau saja, Kiai Mu’thi tahu jika tanah yang digunakan untuk menanamnya dibajak menggunakan sapi atau kerbau. Dengan hanya melihat warna daun tembakau, Kiai Mu’thi tahu, apakah asupan sinar matahari di pohonnya kurang atau cukup, dan apakah sudah mendapatkan cukup air atau belum.
Itulah semacam “karamah” Kiai Mu’thi terkait tembakau. Maka itu pula dia disebut dokter tembakau—bahkan mungkin ahlinya ahli tembakau.
Keakraban Kiai Mu’thi dengan tembakau—mungkin—adalah bukti bahwa dia punya hubungan baik dengan makhluk selain manusia: tumbuhan dan hewan. Dan dalam kehidupan sehari-hari, dia memang banyak berjibaku dengan kedua makhluk tersebut.
Kiai Mu’thi adalah petani dan peternak bertangan dingin. Tanaman dan hewan ternak yang ditanganinya, biasanya, membuahkan hasil memuaskan. Dia mengelola pertanian dan peternakan di sekitaran Losari, Ploso, Jombang.
Dalam usaha tani dan ternaknya, Kiai Mu’thi bekerja sama dengan masyarakat sekitarnya. Sawah dan ternaknya dikerjakan orang lain, dengan sistem bagi hasil. Dengan model pengelolaan seperti itu, Kiai Abdul Mu’thi bermaksud mengajarkan gotong-royong dan kemandirian ekonomi kepada masyarakat sekitar.
Di Ploso itu juga Kiai Mu’thi mengajar ngaji, meneruskan jejak ayahnya, Kiai Syuhada, di Pesantren Kedungturi. Hanya saja, pesantren kala itu lebih difungsikan sebagai lembaga pengajian biasa, bukan seperti pesantren pada umumnya. Mungkin karena itulah Pesantren Kedungturi di masa Kiai Abdul Mu’thi tak secemerlang era Kiai Syuhada, hingga akhirnya meredup pelan-pelan—kendati semangatnya tetap lestari.
Soal ilmu agama, selain dididik oleh ayahnya sendiri, Kiai Achmad Syuhada, Abdul Mu’thi juga memperdalamnya dengan cara mondok di beberapa pesantren, seperti di Tragan, Mancar Buduk, Peterongan; Kertopaten, Mojokerto; dan di Nglirip, Mojokerto. Di pesantren-pesantren itu dia mempelajari kitab-kitab kuning.
Tidak puas hanya belajar ilmu syariat, Abdul Mu’thi memperdalam keilmuan Islamnya dengan mempelajari tasawuf. Dia belajar tasawuf dari Kiai Ali Muntoha, ulama dari Kedung Macan, Kecamatan Sambong, Jombang. Kiai Muntoha menguasai keilmuan tasawuf dari Tarekat Naqsabandiyah, Qodiriyyah, dan Akmaliyah.






